Tayangan Televisi Hanya Mengejar Rating

From  datascience.berkeley.edu Anda pasti tahu kan mengenai bagaimana kondisi media di negara kita saat ini. Bagaimana mereka yang lama kela...

From datascience.berkeley.edu
Anda pasti tahu kan mengenai bagaimana kondisi media di negara kita saat ini. Bagaimana mereka yang lama kelamaan menyajikan tayangan dengan program yang buruk. Bahkan jauh dari kata mendidik. Mengingat anak-anak juga selalu menonton tayangan televisi.

Televisi memang alat hiburan yang wajib ada di rumah. Bukannya wajib sih. Tapi yang saya tahu zaman sekarang di setiap rumah pasti minimal ada sebuah televisi. Baik itu rumah warga perdesaan apalagi perkotaan. Televisi seakan alat minimal yang dimiliki dalam sebuah rumah. Paling tidak untuk mengetahui berita-berita terbaru.

Berhubung dalam setiap rumah ada televisi, kita perlu kritis terhadap apa yang
ditayangkan dari televisi tersebut. Berbagai macam chanel televisi bertebaran dengan bersaing melalui program-program acara unggulannya. Namun tak jarang karena ketatnya persaingan lama kelamaan mereka   para chanel televisi   justru menampilkan program tidak bermutu dan tidak berguna. Persaingan mereka adalah demi mengejar penonton dan hal itu akan memberikan keuntungan dari iklan-iklan,

Kemarin saya sempat membaca thread salah seorang di Kaskus (mohon maaf linknya saya lupa) dan dia menyatakan fakta-fakta mengenai tayangan televisi di Indonesia sekarang. Bisa dikatakan tayangan televisi dulu lebih berisi dan bermutu daripada saat ini. Seperti contoh kebobrokannya adalah bagaimana sinetron yang tayang tanpa ada akhir. Belum lagi cerita yang begitu-begitu saja dan mudah sekali ditebak. Belum lagi ftv-ftv yang membuat pola pikir masyarakat berubah menjadi ingin yang langsung jadi alias serba instan. Tidak melalui proses dan usaha terlebih dahulu.

Well, berikut saya paparkan program acara televisi yang tidak bermanfaat   menurut saya. Bukan nama acaranya yang akan saya sebutkan tapi kategorinya.
  1. Sinetron

    Saya dulu sempat menyukai sinetron. Tapi itu dulu ketika saya masih anak-anak. Semakin dewasa saya semakin eneg melihat sinetron yang bertebaran di berbagai stasiun televisi. Tokoh antagonis yang menindas dan seakan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa saja. Tokoh protagonis yang sabarnya keterlaluan. Perebutan harta, suami/istri/pasangan, dan lain-lain. Yang pasti semuanya itu seperti cerita tidak ada habis-habisnya. Alurnya pun mudah ditebak. Tak jarang terdapat adegan berlebihan yang tidak sepantasnya ditayangkan karena bisa merusak moral anak-anak. Pernah dengar jika ada anak SD sudah berani pacaran? Itu karena dampak dari apa yang mereka tonton di televisi. Belum lagi konsep cerita yang menjiplak dari produk luar negeri. Seakan pembuat sinetron tidak punya kreatifitas sama sekali. Pantas saja teman-teman saya lebih menyukai produk luar negeri seperti drama korea daripada sinetron indonesia.

    From blokdhebanyumanik.wordpress.com
  2. Entertaiment dan gosip
    From sepung.blogdetik.com

    Saya tidak habis pikir dengan fenomena ini juga. Beragam infotaiment atau intertaiment atau apalah namanya yang berarti program televisi yang membahas orang lain terutama artis-artis papan atas. Boleh-boleh saja jika yang diberitakan adalah hal-hal positif mengenai artis tersebut. Tapi sayangnya kebanyakan dari acara gosip tersebut selalu menampilkan gosip alias keburukan dari artis tersebut. Bisa keburukan, skandal, gosip, kasus, perang dengan nama-nama artis lain, dan lain-lain. Bahkan kebanyakan mereka hanya menjual sensasi karena dengan sensasi mereka akan banyak diberitakan di publik. Lalu media akan berusaha menggali info sedalam-dalamnya dari sensasi tersebut. Naasnya sensasi murahan seperti ini justru banyak diminati masyarakat karena penasaran. Seakan para idola yang harusnya jadi contoh teladan yang baik justru hanya mencontohkan hal-hal yang negatif. Saya hanya kasihan sama yang menonton acara seperti ini. Once again, program acara seperti ini hanya mengejar rating.
  3. FTV
    From eddypasaribu.blogspot.com

    Anda pasti tahu apa itu FTV. Film pendek yang biasanya diputar di jam-jam siang. Terkadang malam pun juga ada walaupun biasanya malam-malam adalah sinetron time. Film dengan cerita klasik   cinta. Judul yang nyeleneh, alur yang mudah ditebak dan terkesan itu-itu saja, adegan yang begituuu saja. Lalu tiba-tiba berakhir bahagia. Ada lagi yang menampilkan cerita namun jatuhnya tidak masuk akal. Entahlah. Yang pasti ini semua yang membuat orang-orang berpikir bahwa hidup itu mudah dan simpel. Padahal hidup tidak seindah ftv.
  4. Acara hiburan
    Ingat mengenai goyang yang tren beberapa waktu lalu? Dengan stasiun televisi ternama yang ikut mengangkat tren yang tidak penting tersebut. Ingat mengapa goyangan sesepele itu bisa menjadi tren? Itu semua karena masyarakat awam yang senang begitu saja dengan tren baru dan tanpa sadar menggiring rating yang tinggi. Yaps, lagi-lagi demi rating. Acara yang menampilan alur yang tidak jelas setiap hari, juga ditayangkan berjam-jam, membuat orang seperti buang-buang waktu untuk menonton acara semacam itu. Ini bukan dari salah satu stasiun televisi saja. Tapi kebanyakan seperti itu. Bahkan cenderung menghina orang atau kelompok tertentu. Apakah ini yang disebut tayangan mendidik jika menampilkan hal-hal yang tidak bermanfaat?
Selain kategori yang disebutkan di atas, masih ada tayangan tidak mendidik lainnya. Namun kita mencoba berpikir realistis bahwa tidak semua acara televisi buruk. Bahkan ada daftar nama acara terbaik dan berkualitas menurut responden cerdas. Inilah daftar acara terbaik yang dirilis oleh KPI Pusat.


Semoga acara-acara di atas dan yang tidak sempat masuk nominasi bisa tetap diadakan. Saya hanya kasihan sama yang nonton dan yang berperan dalam acara-acara yang kurang mendidik. Apa mereka mau sebodoh itu dibayar tinggi untuk membuat program acara bodoh?

You Might Also Like

1 komentar

  1. Tentunya sangat membahayakan bagi anak , jika tayangannya berunsur sronok hanya ngejar Rating
    ....
    Nice Post
    Sertifikasi Coaching Indonesia

    BalasHapus