Ayah Demi Anaknya

Juli 21, 2015

"Pa, obatku kok nggak ada ya?", keluh Rita resah. Dia mencari obatnya sedari tadi tidak ketemu juga. Padahal Rita ingat betul bahwa tadi malam obatnya ditaruh di atas meja makan. Obat yang dicari Rita adalah vitamin kesehatan untuk Rita. Sesuai resep dokter setelah Rita melakukan cek kesehatan, ia harus rutin meminumnya.
"Emang terakhir kamu taruh mana?", tanya Papa Rita ikut kebingungan mencari.
"Terakhir di meja makan ini. Tapi kok hilang yah?", jawab Rita bingung. Satu persatu personil rumah mulai ikut mencari obat yang hilang "Apa mungkin kebuang?".
"Hah? Kebuang? Di tempat sampah?", ujar Mama Rita.
"Yang bener aja!", ujar yang lain menyahut.
Akhirnya semua menghembuskan nafas panjang. Kalau terbuang di tempat sampah itu artinya obat beserta sampah-sampahnya kemungkinan sudah menyatu jadi satu. Obat yang seharusnya tidak dibuang itu bercampur dengan sampah-sampah yang bau. Belum lagi jika sampah-sampah di depan rumah sudah terlanjur dibuang oleh petugas sampah. Membayangkan itu semua, seisi rumah sudah lemas.
"Sampahnya masi
h diluar kok.", ujar Papa Rita kemudian. Semua masih sibuk mencari walau satu persatu mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Satu jam berlalu, Rita nampak ceria pagi ini. Sekitar pukul delapan, dandanannya sudah oke. Rambut digerai memanjang bergelombang sampai punggung, kaos jersey hitam lengan panjang, rok motif zig zag aksen hitam putih, wedgess putih, serta tas hitam di lengan. Rita seperti sudah siap untuk jalan-jalan pagi bersama keluarga. Ketika baru keluar dari kamar, Papa Rita datang dengan wajah lesu.
"Obatmu gak ketemu, Rit.".
"Udah ketemu, Pah. Di laci meja belajar Rita ternyata.".
"Haaah?".
Papa Rita hanya bisa bengong. Ternyata obat anaknya ada di kamar anaknya sendiri. Kalau tahu begitu, mengapa ia harus susah-susah mengobrak abrik tumpukan sampah yang bau dan kotor?

Melihat tangan papa yang kotor, Rita merasa bersalah. Sejenak Rita minta maaf lalu ikut membersihkan tangan papanya. Rita cukup membayangkan beberapa kantong kresek sampah hari ini yang isinya kotor dan bau itu harus diobrak-abrik papanya. Papa Rita rela melakukan itu semua demi anaknya. Padahal Rita membayangkan saja sudah jijik.
"Maaf yah, Pa. Papa kok ngobrak-ngabrik tempat sampah."
"Gak papa, sayangku.".
"Gak papa apanya. Tangan papa jadi bau banget kayak gini.".
"Kalo buat kamu, apa sih yang enggak.".
Mendengar gombalan papanya, Rita tertawa kecil. Diiringi Papa Rita yang tertawa iseng.

Begitulah seorang ayah. Ia rela melakukan hal apapun demi anaknya meskipun hanya hal sepele. Seperti Papa Rita yang rela membongkar sampah yang bau dan kotor demi putrinya, Rita. Kalau sudah demi putrinya, perasaan jijik pun akan kalah dengan rasa kasih sayang.

You Might Also Like

0 komentar