Doa Doa Mereka part 2

Juli 22, 2015

Part 1....

Lagi-lagi ada tamu. Saat itu saya bingung mau ngapain. Adek kecil berlarian kesana-kemari dari ruang tamu sampai kamar-kamar. Dia keliatan seneng banget. Saya seneng juga lihat adek saya yang bahagia kayak gitu. Saya duduk-duduk di sofa sambil mainan hp yang dicharger. Entahlah sudah berapa lama sampai akhirnya saya tidak sengaja mendengar percakapan Ibuk dengan tamu. Jarak tempat saya duduk dengan ruang tamu memang dekat. Saya bisa dengar mereka membicarakan apa.

"Pokoknya tujuh tahun lah.", ucap Ibuk santai tapi sedikit untuk guyonan. "Buat mempersiapkan Itsna.", tambahnya lagi. Saya langsung menoleh. Kenapa Ibuk menyebut-nyebut namaku? Saya bergumam dalam hati. Tapi buru-buru saya berhenti menoleh. Sepertinya saya tahu kemana arah pembicaran ini.
"Kenapa kok Itsna?", tanya salah seorang tamu.
"Soalnya Itsna mau dimantu.", ucap Ibuk senyam-senyum. Tuh kan. Pasti
membicarakan hal ini lagi. Ibuk terus senyum-senyum sendiri. Sepertinya beliau sudah membayangkan acara lamaran dan bertemu dengan calon besan lalu menyerahkan seserahan dan lain sebagainya. Saya? Saya masih belum sanggup memikirkan hal semacam ini.

Ibuk mulai berbicara aneh-aneh. Masalah nanti semisal ada acara pertemuan dua keluarga dimana. Ibuk memang berencana membangun rumah dengan ruang keluarga yang luas. Gunanya untuk acara-acara. Tapi sepertinya Ibuk lebih menekankan acara lamaran untuk saya beberapa tahun kedepan. Saya bingung. Kalau Ibuk sudah membicarakan masalah seperti ini saya hanya bisa pasrah. Mungkin wajah saya sudah pucat.

***

Lagi-lagi Ibuk ngomongin itu lagi. Ketika itu sedang santai. Ibuk sedang berbicara dengan bude. Ibuk ngomong aneh-aneh lagi. Masalah rumah lah, lamaran lah, entah apa lagi. Saya pura-pura gak dengar. Tapi tetap saja kedengaran. Saya bingung apa yang harus saya lakukan. Kesannya saya hanya diam sembari memasrahkan diri tentang apa yang akan Ibuk katakan mengenai masa depan saya. Saya pun mainan hp daripada mendengar omongan Ibuk. Bude ketawa kecil mendengarkan apa yang Ibuk katakan. Lalu menoleh ke arah saya.

"Its, bentar lagi kamu dimantu lho..", mau gak mau saya menoleh ke bude. Saya bingung mau memberi ekspresi apa. Alhasil saya hanya memasang ekspresi datar tanpa menjawab. Ibuk melirik saya dengan senyum iseng. 

Lama-lama, saya bingung. Kenapa lebaran kali ini berbeda sekali ya dari tahun-tahun kemarin? Kenapa pada ngomongin masalah pernikahan? Saya tidak mengerti. Saya diam-diam memerhatikan wajah saya. Apakah ada yang berubah ya? Apa wajah saya kelihatan tua gitu ya? Saya perhatikan sih biasa saja. Tidak cantik sih. Tapi biasa saja. Saya heran. Apa mungkin gara-gara Ibuk yang menggembar-gemborkan ya?

Mereka juga seakan ngomong tentang saya. Soal menikah. Nyatanya sanak keluarga juga sudah tanya aneh-aneh ke saya. Saya tahu sih mereka asal ngomong aja. Tapi ketahuilah bahwa perkataan adalah doa. Masalahnya, saya tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada saya di masa depan. Saya takut kalau-kalau perkataan mereka sudah seperti doa dan jadi kenyataan gitu saja. Badan saya langsung lemes. Membayangkan hal tersebut saja saya sudah tidak sanggup.

Saya sering sih mendengar cerita dari orang-orang yang umurnya lebih tua beberapa tahun dari saya dan belum menikah. Ya begitulah. Setiap lebaran tiba, mereka selalu ditikam dengan pertanyaan kapan nikah, mana pacarnya, dan lain-lain. Mereka merasa miris dengan diri mereka sendiri. Awalnya saya hanya tertawa saja mendengar kisah-kisah klasik mereka. Baru sekarang ini saya mulai nyadar bagaimana rasanya. Gak enak banget ya digituin. Apalagi gak pernah kepikiran soal cinta. Tiba-tiba saya teringat dengan status orang yang nongol di fb,

"Bersabarlah bagi kalian yang ketika lebaran ditanyai masalah cinta, jodoh, dan kapan nikah. Karena mereka yang menghujani kalian dengan pertanyaan seperti itu sebenarnya lagi balas dendam. Karena dulu mereka udah sering digituin. Hehe."

Entahlah. Lebaran saya tahun ini terasa berbeda. Gak tahu ya. Beda aja gitu.

You Might Also Like

0 komentar