Doa Doa Mereka

Juli 22, 2015

Hari-hari ketika lebaran memang cukup menyenangkan. Sebelum bulan puasa berakhir, saya membayangkan momen-momen kebersamaan. Kelurga yang jauh dari luar kota menyempatkan diri pulang untuk sekedar bersama. Sanak saudara  baik jauh maupun dekat  yang sebelumnya tidak pernah bertemu jadi semangat untuk bertegur sapa. Itulah lebaran, penuh semangat! Semangat silaturahmi maksudnya.

Sudah dua tahun lebaran terakhir ini saya di rumah terus. Istilahnya semacam open house gitu. Di rumah mungkin hanya menemani Ibu menjamu tamu, menyiapkan jajan-jajan lebaran, angpou lebaran, dan lain-lain. Males sih rasanya. Sebenarnya saya ingin silaturahmi dengan mengunjungi rumah sanak saudara atau mungkin ke rumah teman-teman yang sedang open house. Artinya saya yang keluar. Sayangnya itu tidak mungkin, Pertama, saya punya adek kecil. Usianya masih dua tahun. Saya nggak tega ninggalin dia di rumah tanpa pengasuhan. Ibu biasanya sudah sibuk jadi tidak sempat mengawasi adek secara intens. Kedua, masalah ini agak klasik untuk diceritakan. Saya nggak tahu jalan. Saya nggak tahu jalan ke rumah teman-teman atau saudara yang jauh. Bisa jadi saya silaturahmi tapi ujung-ujungnya nyasar. Entah ketika berangkat  sampai akhirnya gak jadi kerumah orangnya. Atau nyasar pas pulangnya. Jadinya saya gak pulang-pulang ke rumah.

Tahun ini rasanya seperti berbeda dari dua tahun belakangan. Akhirnya keluarga kecil saya menyempatkan diri untuk silaturahmi ke rumah sanak saudara. Dari yang dekat-dekat
sampai yang jauh. Kami naik BMW putih yang diisi Abah, Ibuk, dua adek serta saya sendiri. Kalau dulu-dulu banget ketika saya masih kecil, keluarga kami selalu rombongan silaturahmi bersama keluarga besar Abah. Tapi lambat laun Abah dan Ibuk memutuskan untuk silaturahmi sendiri saja. Hasil dari silaturahmi sih lumayan  karena dapet duit terus. Saya sering dikasih angpou padahal saya sudah kelas 3 SMA. Usia 17 tahun lebih beberapa bulan. Tapi tetep aja saya dikasih. Saya pun ikhlas. Ikhlas menerima pemberian dari tuan rumah. Lumayan lho. Jumlah uangnya sudah sama kayak uang jajan saya sebulan hehehe.

Setelah asyik keliling, kami pun pulang. Suasana sudah menyore. Saya duduk-duduk di depan rumah sambil mengawasi adek kecil  dan adek besar  mainan di teras depan. Tiba-tiba saja paklek dan bulek datang. Kebetulan Ibu masih open house sama rumahnya. Jadi langsung saja saya buka pagar, mempersilahkan masuk.

Mereka datang bersama dua anak yang sudah jelas anak mereka. Artinya mereka adalah saudara sepupu saya. Anak pertama baru saja masuk SD. Dia perempuan. Kemarin-kemarin saya sempat buka fb. Saya sedikit-sedikit ingat tentang statusnya. Tapi yang saya ingat betul,

"Untuk pacarku, jangan lupain aku ya. Tetep sayang sama aku. :*
Buat mantanku, jangan pernah lupain aku ya.:*"

Saya bengong beberapa saat. Ini status yang dibuat oleh bocah yang baru lulus SD. Tunggu dulu! Dia punya pacar sekarang? Saya saja gak pernah pacaran. Dia sudah punya mantan? Ha? Mantan? Saya bahkan tahunya cuma manten. Hehe

Saya perhatikan anaknya lamat-lamat. Hari itu ia silaturahmi ke rumah saya menggunakan kostum serba biru. Dia memakai kerudung paris biru dongker yang kedua ujungnya disampirkan ke bahu kanan-kiri  ala anak kekinian, gamis motif jeans dengan warna biru yang lebih muda dari kerudungnya. Wajahnya photogenic sih, tapi masih terlihat dari wajahnya masih seperti anak-anak. Ada kepolosan yang terkandung di wajahnya  walaupun sepertinya lebih polosan wajah saya. Saya heran, anak sekecil ini pacaran? Mikir apa dia?

Dasar anak jaman sekarang. Gumam saya dalam hati. Tanpa sadar saya memerhatikan dia terus. Dia asyik makan jajanan yang Ibu suguhkan. Saya langsung mengalihkan perhatian. Bingung juga lama-lama mikirin jalan pikiran anak sekecil itu.

***

Ibuk agak lama ngobrol sama paklek bulek. Ibuk memang begitu sih. Suka ngomong dan cerita-cerita ini itu. Ibuk sifatnya memang mudah bergaul dan selalu punya topik pembicaraan. Beda sama saya yang  kayaknya sih  kebalikannya. Saya tetap pada posisi saya. Duduk mengawasi adek kecil di teras depan. Lama-lama saya agak melamun karena bingung mau ngapain.

Lalu sampai pada suatu kisah, obrolan mereka sampai kepada topik yang membuat saya agak tegang.
"Itsna... tiga tahun lagi dimantu.", ujar bulek sambil mengangkat tiga jarinya. Seakan saya gak pernah ngerti kalau itu adalah angka tiga. Saya hanya menoleh. Lalu bengong. Saya bingung mau ngomong apa. Lama-lama saya mikir cepat. Saya sudah 17 tahun. 17+3=20 tahun. Ha? Saya benar-benar berat untuk memikirkan hal semacam ini. 20 tahun saya masih jadi apa. Enak banget bilang masalah pernikahan.
"Astagfirullah.", jawab saya sekenanya. Mungkin hanya kata-kata mutiara semacam ini yang mampu saya lontarkan di saat terdesak seperti sekarang.
"Pacarmu siapa, Its??", tanya paklek senyam-senyum. Saya semakin mlongo. Tiba-tiba saja saya teringat anak paklek yang sudah pacaran. 
"Gak pacaran Itsna itu.", ujar Ibuk langsung menimpali. Saya bingung maksud ucapan Ibuk apakah beliau membela atau sengaja menyindir saya. Saya tidak peduli. Syukurlah karena topik langsung teralihkan dengan cepat. Saya bernafas lega.

Tiga tahun lagi? Mantu? Pacar? Apa ini maksudnya? Apakah wajah-wajah saya ini sudah pantas untuk menghadapi masalah percintaan seperti itu. Saya bingung. Saya gak tahu apa-apa. Dan saya gak tahu apa yang harus saya lakukan. 

Entahlah.

Apakah yang dikatakan paklek, bulek, dan Ibuk menjadi doa?

Aku tidak bisa membayangkan jika tiga tahun lagi menjadi kenyataan. Please, aku merasa tidak siap untuk ini.

bersambung...

Part 2...

You Might Also Like

0 komentar