Mengapa Selalu Menunda Kebaikan?

Juli 19, 2015

Telah kusaksikan sekali lagi. Lebaran sudah datang. Sedang Ramadhan pergi begitu cepatnya. Ini sudah hari kedua setelah penetapan hari raya Idul Fitri dilaksanakan. Aku dapat melihat gegap gempita jalanan di pagi sampai sore hari.

Banyak sekali kendaraan berhamburan di jalan raya. Terutama pengguna kendaraan beroda empat sampai-sampai membuat kemacetan di jalan besar. Banyak sekali pengguna mobil di hari kedua ini. Mungkin karena cuaca yang begitu panas ditambah dengan silaturahmi membawa rombongan keluarga. Hari pertama adalah hari tersibuk untuk Ibu dan pada akhirnya aku diajak sibuk juga. Ibu sedang menyiapkan semua perabot untuk rumah baru. Mulai dari televisi, meja, sofa, seperangkat alat makan dan alat masak, karpet, jajanan lebaran, dan semuanya. Sebenarnya semua hal itu sudah disiapkan sebelum lebaran tepatnya ketika bulan puasa. Meskipun puasa, Ibu begitu semangat untuk menyiapkan apa saja untuk rumah baru ini. Tujuannya jelas. Supaya rumah ini bisa layak digunakan untuk menyambut tamu saat lebaran.


Sayangnya, sampai hari kedua pun rasanya masih ada yang kurang untuk diboyong ke si rumah baru. Alhasil akulah yang kerepotan bolak-balik antara rumah lama dan rumah baru. Pertama adalah ketika pagi-pagi Ibu mau memasak dan ternyata lupa belum membawa bawang merah. Yang kedua adalah mengambil pakaian karena ternyata Ibu, aku dan adik-adikku kekurangan pakaian di sini Aku memacu motorku dengan kecepatan biasa yang kupakai. Ini sudah kali kedua aku disuruh pulang ke rumah lama untuk mengambil beberapa stel baju. Siang ini begitu terik. Belum lagi ramainya jalanan. Macet sana sini. Walau kemacetannya tidak separah Jakarta juga, tapi aku turut senang melihat bagaimana semua orang semangat untuk menyambung tali silaturahmi. Mumpung momen lebaran, tentu saja. Aku sampai di rumah lamaku.

Rumah lamaku ini berlokasi cukup strategis. Berada di pinggir jalan utama kota, dekat dengan berbagai macam toko sesuai kebutuhan. Lokasinya juga dekat dengan pusat kota, alun-alun. Di depan rumah lamaku selalu berjejer para tukang becak yang memang menunggu penumpang dari bus yang ngetem mendadak. Waktu hari pertama lebaran, tidak ada satupun tukang becak yang standby di situ. Pada siang ini, aku melihat seorang tukang becak yang sedang menjemput rezeki sendirian. Padahal ini hari kedua lebaran. Tapi beliau tetap berusaha bekerja dengan becaknya. Wajah beliau yang familiar.

Aku sering melihat wajah beliau dari seberang sini. Hatiku seperti penasaran. Mengapa beliau tetap bekerja? Apakah beliau benar-benar membutuhkan uang untuk keluarganya? Apakah beliau tidak memiliki uang cukup untuk menikmati lebaran? Dimana keluarganya? Dimana putra-putrinya? Bukankah diusia yang tidak lagi muda, beliau tidak seharusnya bekerja sekeras ini menjadi tukang becak? Rasanya aku tergerak hati untuk memberikan ampou lebaranku untuk beliau. Tapi... Seakan niat baik itu urung begitu saja. Tidak jadi kulakukan. Aku kembali sibuk mematuhi perintah Ibu untuk membawa ini itu dari rumah lama.

Hingga ketika kuketik tulisan ini, aku masih memikirkan beliau. Berat rasanya mengetahui ada seseorang yang tidak menikmati apa-apa yang sudah aku nikmati sekarang. Rasanya aku masih kurang sekali untuk bersyukur dengan nikmat Allah yang memberiku hidup yang berkecukupan. Terlebih lagi aku menyesal mengapa aku mengurungkan niat untuk berbuat baik terhadap beliau. Padahal aku tahu betul bahwa pekerjaan beliau sebagai tukang becak itu tidak pernah pasti. Kadang ada penumpang namun bisa saja sama sekali tidak ada penumpang dalam sehari. Belum lagi jika ada penumpang yang ingin diantar jauh dengan bayaran murah. Tidak sebanding dengan jerih payah beliau mengayuh becak dengan beban berat di usia yang tidak lagi muda. Bapak tukang becak. Ternyata dibalik wajahmu, aku bisa belajar untuk lebih banyak bersyukur akan kehidupanku sekarang. :')

***

"Niki pak njenengan tampi." Kataku sambil memberikan beberapa lembar rupiah pada beliau.
"Napa niki mbak?".
"Mpun njenengan tampi mawon mugi-mugi wonten barokahipun." 

Sayang dialog di atas hanyalah mimpi.

You Might Also Like

0 komentar