Menulis Diary?

Juli 21, 2015

Menulis sudah menjadi kesenangan saya sejak lama.
From tipsbejo.blogspot.com

Saya mau bercerita sedikit saja. Hal ini berkaitan dengan insiden terkuaknya tulisan diary teman saya. Diary itu seharusnya tidak boleh dibaca tanpa seizin penulisnya. Maklum karena isi diary pasti sesuatu yang menyangkut privasi. Tapi namanya juga manusia yang selalu punya rasa penasaran akan suatu hal, orang-orang justru membaca diary teman saya itu. Teman saya ini sempat shock. Karena memang diary itu seharusnya menjadi privasi dan cukup dirinya sebagai penulis yang tahu. Begitu tahu bahwa diarynya sudah dibaca orang  entah perasaan apa yang bisa diungkapkan  rasanya malu sekali. Marah sih juga ada karena merasa orang-orang sudah tidak sopan membaca buku diarynya. Tapi salahnya juga karena keteledorannya menaruh barang di tempat sembarangan.

Mendengar cerita di atas, saya jadi teringat masa lalu. Saya dulu sering menulis catatan diary. Entah apapun isinya. Pokoknya apa yang saya rasakan akan saya tulis di buku diary. Saya mulai menulis sejak SMP dan konsisten berlanjut hingga SMA. Karena saya masih remaja, jelas saja apa yang tertulis di buku diary kesayangan saya. Topik cinta cukup mendominasi. Disusul dengan topik pertemanan dan persahabatan yang pasang surut juga tak luput menjadi bagian
dalam buku diary saya. Apa saja yang saya rasakan pasti tertuang dalam buku keramat tersebut.

Menurut fungsi dan sifatnya, buku diary saya benar-benar privasi. Saya selalu memojokkan diri di salah satu sudut rumah untuk menulis. Menghindari hiruk pikuk percakapan keluarga karena menulis curahat isi hati afdolnya di saat suasana sepi. Setelah puas menulis, buku diary saya letakkan di meja belajar. Yaps, tergeletak begitu saja. Padahal buku saya seukuran kertas folio. Terlalu besar ukurannya untuk sebuah buku diary. Dan bodohnya lagi barang privasi seperti itu tidak pernah saya sembunyikan di tempat yang sekiranya tidak diketahui semua orang. Buku diary justru saya letakkan begitu saja di atas belajar.

Karena keteledoran saya, buku diary yang saya tulis mulai dari kelas 2 SMP sampai kelas 1 SMA dengan total empat edisi, ternyata sudah dibaca oleh ibu saya. Bukan hanya ibu, kakak perempuan saya nyatanya diam-diam ikut membaca buku diary saya. Perasaan malu, marah, panas-dingin, bingung, shock, semua jadi satu. Mengetahui fakta bahwa buku diary itu sudah terbaca oleh orang lain membuat raga saya seakan terlempar jauh menuju planet Mars. Saya bingung mau ditaruh dimana muka saya. Bertahun-tahun saya menulis rahasia-rahasia saya, dengan gampangnya ada oknum-oknum tak berkepentingan yang tidak sopan membaca privasi orang lain. Tapi apa mau dikata, mereka sudah melahap semua isi diary saya. Mereka sudah tahu apa yang saya rasa-rasakan. Mereka sudah tahu rahasia-rahasia saya. Mereka mengetahui sesuatu dari saya yang seharusnya tidak perlu mereka ketahui. Sakit rasanya.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak pernah menulis diary lagi semenjak Januari 2015.

Saya merasa kapok untuk menulis privasi saya. Karena saya merasa hanya inilah cara saya mengungkapkan isi hati saya yang saya sendiri tidak bisa menceritakannya kepada orang lain. Saya tidak pandai bercerita masalah pribadi ke orang lain jadi hanya menulis yang bisa saya lakukan. Dan bayangkan jika ada orang lain yang ternyata sudah membaca semuanya.

Jujur ketika itu saya hampir-hampir menangis karena saking marahnya. Saya bahkan berniat untuk membakar semua edisi buku diary saya karena isinya memang benar-benar rahasia saya. Perasaan malu pun jelas saya rasakan. Terlebih ketika kakak perempuan saya menggoda saya dengan menyebut-nyebut nama orang yang  saat itu  saya sukai. Untung saja dia tidak tahu siapa dan seperti apa orangnya. Di buku diary hanya saya tulis nama orang tanpa disertai foto orang yang bersangkutan. Kalau ibu saya sukanya mengungkit-ungkit secara halus tapi terkadang justru pura-pura tidak tahu. Menyebalkan.

Saya benar-benar tidak sanggup lagi untuk menulis diary. Entah karena kapok, trauma, takut, atau apalah. Intinya saya tidak mau  bahkan tidak suka  menulis curahan isi hati. Hingga sekarang, apa yang saya rasakan cukup disimpan dalam hati saja. Mungkin juga karena pengaruh proses kedewasaan diri jadi saya tidak sembarangan lagi dalam menulis suatu hal.

Yayayaya. Begitulah pengalaman  buruk  saya. Semoga ada hikmah dibalik kejadian. Masalah tahu tidaknya orang-orang yang pernah membaca privasi saya sudah saya ikhlaskan. Toh mereka sudah tahu apa yang menjadi rahasia saya. Semarah apapuna atau tidak ikhlas bagaimanapun juga, mereka tetap sudah terlanjur tahu. Jadi percuma saja disesali. Sekarang saya hanya berjanji pada diri saya sendiri untuk memastikan bahwa mereka tidak akan tahu rahasia-rahasia saya lagi.

***

"Menulis adalah sarana memahat peradaban." -Kak Syifa


You Might Also Like

0 komentar