Tak Pernah Bersyukur dan Berjuang

From wall.alphacoders.com Pekerjaan halalnya sebagai pemulung ia lakoni sebisanya. Kumuh, kotor, jorok, bau, atau kata-kata jelek apapun men...

From wall.alphacoders.com

Pekerjaan halalnya sebagai pemulung ia lakoni sebisanya. Kumuh, kotor, jorok, bau, atau kata-kata jelek apapun mengenai profesi ini tidak pernah digubrisnya. Dulu ia adalah anak seorang kaya raya. Karena roda kehidupan yang terus berputar. Seseorang yang dahulunya berada di atas telah berputar ke bawah. Bukan hal yang tidak mungkin jika seseorang yang dahulunya adalah orang terpandang dan disegani. Kini berubah menjadi seseorang yang bahkan orang pun enggan untuk meliriknya.

***

Dimas adalah anak tunggal dari pasangan dari pasangan kaya raya. Ibunya adalah wanita karir di sebuah perusahaan multinasional sedang ayahnya adalah seorang direktur di salah satu
bank di Indonesia. Kekayaan yang melimpah tak luput dari fasilitas yang lengkap dan berkualitas. Televisi, sofa, karpet, dan seluruh perabot rumah dibeli dengan harga selangit per satu barang. Tak lupa untuk masalah gadget, keluarga ini setiap anggotanya bisa memiliki lebih dari satu gadget untuk kepentingan informasi dan komunikasi.

Ketika menginjak sekolah dasar, Dimas adalah anak polos yang tidak tahu apapun. Ia hanya tahu bahwa orang tuanya jarang ada di rumah. Ketika pulang, ia selalu disambut oleh banyak asisten rumah tangga yang selalu menyiapkan apa yang ia perlukan.

Masa SMP dan SMA adalah masa-masa rawan bagi remaja. Dan Dimas dirasa gagal melaluinya. Ia mengikuti pergaulan yang salah. Uang dan fasilitas mendukung kesalahan yang ia lakukan. Itu pun juga tanpa pengawasan orang tua. Semuanya menjadi semakin tidak terkontrol. Dimas tidak pernah mau belajar. Ia tidak pernah menggubris pendidikannya. Ujian demi ujian selalu dilalui dengan jalan tidak jujur. Ia selalu menghabiskan waktu untuk keluar bersama teman-temannya. Sudah seringkali ia pulang malam. Di rumah, Dimas hanya bermalas-malasan. Seperti itulah karakter Dimas yang terbentuk.

Menjelang kuliah, orang tua Dimas berencana untuk menyekolahkan Dimas ke kota besar. Tepatnya di salah satu universitas ternama di Indonesia. Karena Dimas yang malas, orang tuanya membayar sejumlah uang yang tidak sedikit untuk 'memaksa' agar pihak universitas mau menerima Dimas.

"Ayah dan ibu berencana untuk pergi haji, nak. Apa kamu mau ikut"? tanya sang ibu kepada Dimas. Saat itu kebetulan Dimas pulang dari kota besar. Universitas sedang libur. Dimas nampak diam tidak menanggapi. 

Ketika Dimas kembali ke kota besar, orang tuanya terus membujuk agar Dimas bisa ikut berhaji bersama mereka. Lambat laun Dimas mengiyakan permintaan kedua orang tuanya.
"Iya aku akan ikut ayah ibu haji. Uangnya transfer aja nanti Dimas nyusul". jawab Dimas dari seberang telepon. Seketika itu juga uang langsung ditransfer ke rekening Dimas.

Uang yang rencananya untuk berhaji justru digunakan Dimas untuk berfoya-foya. Bahkan Dimas melakukan perjalanan ke luar negeri menggunakan uang haji itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Di negeri orang itu ia mencoba berbagai jenis minuman keras. Padahal saat itu orang tuanya sedang melaksanakan haji.

Beberapa tahun kemudian, orang tuanya meninggal. Dimas hidup sendiri dengan harta warisan dari kedua orang tuanya. Karena tidak bisa mengatur uang untuk kebutuhan, harta warisan tersebut habis untuk foya-foya. Perusahaan bank kini sahamnya dimiliki orang lain. Dimas beranjak miskin dan miskin.

Kini ia telah menikah dan memiliki dua anak. Hidup dalam keadaan sangat miskin. Waktu yang perlahan menyadarkannya dari kesalahan di masa mudanya. Ia enggan berusaha untuk menjadi seperti orang tuanya. Ia selalu malas untuk belajar. Kini ia harus menanggung kebodohan karena tidak memiliki ilmu untuk mencari uang. Begitu pun ketika dulu segalanya ada bagi Dimas, ia enggan bersyukur dengan apa yang ia miliki. Uang orang tuanya selalu ia pakai untuk foya-foya. Masa muda yang seharusnya menjadi investasi terbaik untuk mencari ilmu demi masa tua kini hanyalah perjalanan hidup yang disesali Dimas.

"Kapan aku bisa pergi haji? Mencari makan buat makan sekali aja susah. Apalagi mau pergi berhaji". Begitulah penyesalan Dimas. Ia benar-benar menyesal ketika kesempatan berhaji ada untuknya tapi justru ia sia-siakan. Namun, penyesalan tetap penyesalan.

You Might Also Like

0 komentar