Karena Menulis adalah Caraku Berjuang

Novel trilogi Dahlan Iskan, Surat Dahlan Resensi Novel Trilogi Dahlan Iskan, Surat Dahlan. Surat Dahlan, novel trilogi kedua karya Khrisna P...

Novel trilogi Dahlan Iskan, Surat Dahlan
Resensi Novel Trilogi Dahlan Iskan, Surat Dahlan.

Surat Dahlan, novel trilogi kedua karya Khrisna Pabichara setelah Sepatu Dahlan, benar-benar membuat jiwa saya seakan melayang menilisik kisah masa lalu seorang Dahlan. Novel ini intinya adalah menceritakan Dahlan yang flashback ke ruang-ruang masa lalunya karena beliau harus diam selama 24 jam pasca operasi cangkok liver. Sama sekali tidak boleh barang semilimeterpun untuk bergerak karena dikhawatirkan jahitan bekas operasi yang masih belum kering. Sampai-sampai Dahlan tidak berani tersenyum. Berkedip pun ia tidak berani melakukannya.

Pada saat diamnya itu, ia terjun ke masa lalunya semasa kuliah. Dari kampung halaman di Jawa Timur, Kebon Dalem. Dahlan muda merantau ke Kalimantan tepatnya di Samarinda. Padahal di Jawa sendiri pendidikan sudah lebih maju daripada di luar pulau Jawa. Namun, Dahlan muda tidak merantau dan kuliah demi mencari pekerjaan dan memperoleh kekayaan, ataupun untuk mempelajari apa saja materi yang ia dapatkan semasa kuliah. Dahlan hanya ingin memperjuangkan nasib orang-orang kecil dan miskin di Indonesia saat itu. Dahlan muda semasa kuliah justru aktif dalam organisasi di kampus bernama PII (Pelajar Islam Indonesia). Di organisasi ini, Dahla
n terlibat dengan diskusi dan berbagai perdebatan mengenai berbagai polemik politik dan ekonomi di Indonesia. Di organisasi ini pula ia bertemu dengan Latif, Nafsiah, Syaifudin, Syafiul, dan banyak teman-teman. Dahlan dan kawan-kawan dalam organisasi sempat mendapat blacklist berkali-kali dari kampus karena PII dianggap sebagai organisasi garis keras, berbahaya, mengancam, dan lain sebagainya. Puncaknya, PII melakukan gerakan aksi demo. Rombongan PII itu tanpa letih membawa spanduk dan berjalan dari kampus di atas rawa-rawa menuju kantor gubernur di Samarinda pusat. Hal ini dilakukan demi membela rakyat kecil karena pada saat itu, Suharto sebagai penguasa sedang berusaha menarik investor dan perusahaan asing untuk berbisnis di Indonesia. Hal ini secara tak langsung mengizinkan orang bukan warga Indonesia untuk mengeruk kekayaan yang bukan miliknya dan semakin menyengsarakan rakyat. Mereka berjalan melewati sungai dan arang melintang dengan keyakinan gubernur kota akan mendengarkan suara mereka.

Belum sampai di tempat yang dituju, rombongan aksi demi PII dihadang oleh barisan tentara bersenjata. Komandan tentara tersebut sempat berhadapan dengan Dahlan dan terlibat adu mulut. Komandan tentara mengatakan bahwa rombongan aksi demo adalah barisan pemberontak membahayakan negara. Rombongan PII yang sedang melakukan aksi demo dikatakan sebagai subversif. Ketika Dahlan melontarkan pertanyaan apa itu subversif, semua tentara-baik si komandan dan pasukannya- tidak ada yang mengetahui apa makna kata yang telah komandan mereka sebutkan. Terang-terangan, komandan tentara tersebut mengacungkan mulut senjata tepat beberapa senti di depan dahi Dahlan. Beruntungnya Dahlan beserta kawan PII diselamatkan oleh aksi nekat Nafsiah, perempuan tomboy tapi memiliki suara indah ketika melantunkan Al Quran. Nafsiah yang jago silat itu menendang dada si komandan hingga terjengkal jauh ke belakang. Teriakan kata "lari" keluar dari mulut Nafsiah secara membahana. Seketika itu juga rombongan aksi demo PII lari sejauh-jauhnya menyelamatkan diri masing-masing. Karena selain kalah jumlah, mereka juga tidak mungkin untuk menghadapi tentara yang dibekali oleh senjata. Semenjak itu Dahlan beserta kawan-kawannya yang memiliki pengaruh besar di PII menjadi buronan tentara selama beberapa pekan. Paradigma Dahlan kepada tentara pun berubah. Dahlan benci tentara. Tentara tak lebih dari barisan pertahanan yang menangkap dan menuduh sesuatu yang tidak sesuai faktanya.

Namun, pandangan buruk Dahlan mengenai tentara berubah semenjak ia mengenal Nenek Saripa. Nenek Saripa memiliki kisah masa lalu mengenai keluarganya yang menjadi tentara. Suaminya adalah tentara yang mendapat tugas negara yang tidak pernah pulang lagi. Akhirnya, anak lelaki Nenek Saripa memutuskan untuk menjadi tentara guna mencari ayahnya. Anak lelakinya pun mendapat panggilan tugas negara dan tak kunjung pulang. Pernah suatu ketika, anak lekakinya tiba-tiba pulang dan langsung bersimpuh sambil menangis di kaki ibunya. Dan pengakuan mengejutkan dari mulut anaknya adalah, ia sudah membunuh ayahnya sendiri. Pemerintah dengan kuasa kejinya memaksa sang anak untuk membunuh ayahnya yang dikatakan penguasa sebagai barisan tentara pemberontak. Anak Nenek Saripa pun memenuhi tugas negara dan tidak pernah kembali lagi. Dari situ Dahlan menyadari bahwa tentara tidak bersalah. Mereka hanya tunduk di bawah kaki penguasa dan tidak mengerti apa tujuan penguasa memerintah mereka untuk berbuat hal-hal yang -mungkin saja- menindas rakyat kecil.

Hingga ia bertemu seseorang yang mengajaknya untuk menulis di koran Mimbar Masyarakat. Seseorang tersebut menekankan bahwa bukan hanya dengan aksi demo cara kita memperjuangkan negara namun bisa melalui tulisan. Akhir dari novel ini mengisahkan bagaimana karier Dahlan dalam dunia jurnalistik dan menulis yang meranjak naik hingga ia dipercaya oleh atasannya untuk memimpin koran Jawa Pos. Dari tulisan lah Dahlan muda menyuarakan isi hatinya untuk memperjuangkan nasib Indonesia.

Dalam novel ini, cerita didominasi oleh kisah cinta Dahlan dan Aisha. Mereka saling berkirim surat dan berjanji akan saling menunggu bertahun-tahun walau cinta mereka harus pupus di tengah jalan. Sosok Maryati hadir menyusul Dahlan ke Samarinda. Maryati memiliki rasa terhadap Dahlan tapi sayang Dahlan tidak memiliki perasaan yang sama. Hingga drama percintaan ini diakhiri dengan seseorang yang tidak terduga. Dahlan dalam hal percintaan dikatakan kaku dan tidak bisa romantis. Bahkan kepada perempuan tidak ada kata yang bisa ia katakan selain "iya" dan "tidak". Surat dari Kebon Dalem juga tak lupu diceritakan dari novel ini.

Sebenarnya, saya sudah melihat film Sepatu Dahlan. Tapi saya tertarik untuk membaca novel trilogi pertama, Sepatu Dahlan. Juga saya tertarik untuk membaca buku berjudul Ganti Hati, cerita tentang serba-serbi bagaimana Dahlan melakukan operasi cangkok liver. Sayang buku itu sedang hilang entah kemana. -___- Belum lagi masih menunggu novel trilogi yang masih bersifat coming soon, Senyum Dahlan.

Yang pasti buku ini memberi inspirasi dan semangat lebih bagi saya sebagai pelajar bahwa semangat hidup adalah hal yang terpenting. Terlebih bukan bagaimana kita menghafal materi-materi dan teori dalam pendidikan tapi bagaimana kita mengaplikasikannya pada kehidupn. Pun bagaimana kepekaan kita sebagai generasi muda terhadap fenomena di negara tercinta seperti Dahlan muda saat dulu berjuang untuk nasib bangsa Indonesia.

You Might Also Like

2 komentar

  1. novel ini bagus, tp menurut saya alurnya terlalu cepat, ada beberapa bagian dari cerita yang meloncat, terlalu cepat, apa lagi dia akhir cerita seakan ada ketergesaan si penulis untuk cepat selesai

    BalasHapus