Romansa Dua Benua, Akhir yang Indah

Oktober 15, 2015

Membaca novel sistem kebut sehari langsung jadi.
Kemarin saya nekad menghabiskan sebuah novel. Benar-benar aksi nekad. Karena minggu depan sudah UTS dan saya sama sekali belum belajar. Saya berhasil 'melahap' novel karya Pipiet Senja yang berjudul Romansa Dua Benua.

Ceritanya? Benar-benar tragis dan memilukan. Cerita berawal dari seorang anak kecil bernama Soli. Ia lahir tanpa mengetahui siapa orang tuanya. Ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh neneknya, Mak Kesih. Dalam garis kemiskinan tentunya. Soli terlahir karena kesalahan kedua orang tuanya. Meski ibunya meninggalkannya di rumah nenek begitu saja, tapi Mak Kesih tetap menyayanginya sepenuh hati.

Berbagai kisah memilukan dialami Soli. Apalagi setelah kepergian Mak Kesih yang sangat ia cintai. Hidupnya dilanjutkan dengan mencari ibu kandungnya. Setelah bertemu langsung dengan sang ibu, ibu justru tidak mengakui keberadaan Soli dan tidak mau mengakui Soli sebagai anaknya. Soli seakan sudah patah semangat ketika kemudian ibunya berbalik arah menjemput d
an ingin merawatnya. Siapa sangka jika kebaikan sang ibu hanya semu semata. Diam-diam ibunya ingin menjual Soli karena melihat kecantikan anaknya tersebut yang patut diperhitungkan.

Tiba di suatu keadaan dimana kehidupan Soli nampak berwarna dan indah. Nuwa, cinta pertamanya, memberikan surga untuknya. Namun keindahan itu juga tidak bertahan lama. Nuwa tanpa sebab dan kabar tiba-tiba pergi meninggalkannya sendirian di Belanda. Soli hanya terkatung-katung di jalanan yang bersalju hingga ditemukan oleh keluarga baru yang benar-benar menyayanginya.
Di Belanda, ia menikah dengan Jan Van Hatland, orang asli Belanda yang mau menerima keadaan Soli apa adanya. Meskipun sudah berbadan dua, Jan Van Hatland rupanya berniat untuk menikahi Soli.

Pernikahan mereka dikarunia dua anak ditambah satu anak pertama dari hubungannya dengan Nuwa. Anak yang terlahir itu juga diberi nama yang sama, Nuwa. Setelah mengetahui identitas sebenarnya, Nuwa bertekad untuk mencari siapa ayahnya walau pada akhirnya tidak pernah ditemukan. Nuwa meninggal saat kapal persiar yang ditumpanginya tenggelam.
Kehidupan anak-anak Soli juga carut marut karena kesibukan Soli sebagai pengusaha di Belanda. Anak-anaknya dikabarkan sudah kecanduan narkoba, senang berpesta pora, hura-hura, pergaulan bebas, bahkan mereka membenci ibunya sendiri. Saat kematian sang ayah, mereka menyalahkan ibunya karena terlalu sibuk bekerja sehingga tidak mengetahui sama sekali perihal penyakit Jan tersebut.

Cerita dalam novel ini berakhir manis. Bagaimana Soli dan Nuwa dipertemukan lagi dengan usia yang tak lagi muda. Juga dengan cara yang luar biasa. Seiring waktu berlalu, rupanya mereka menemukan keimanan dan nikmat Islam dengan jalan masing-masing. Ya! Berawal dari masa muda yang menyedihkan dan penuh dosa, kini mereka dipertemukan dalam nikmat Islam. Masyaallah.
Saya suka dengan buku ini. Lintas etnis ada dalam novel ini seperti menerangkan Nuwa yang sebenarnya adalah orang Papua yang memiliki masa lalu kelam di kampung halamannya. Buku ini membuat saya lebih bersyukur atas hidup saya keseluruhan.

Novel ini benar-benar menginspirasi. Bagaimana cara mereka bertemu dengan Islam, bagaimana takdir Allah untuk mempertemukan Soli dan Nuwa. Semuanya terkemas apik dalam sebuah cerita berakhir manis, Romansa Dua Benua.

You Might Also Like

0 komentar