Alkisah "Poligami", Fenomena yang Kerapkali Terjadi

November 01, 2015

CERITA POLIGAMI
Oleh : Uswatun C. Cajou

"Cukup, Han! Kenapa kamu terus-terusan merebut dia dariku?"

"Maafkan aku, Mus. Dia sendiri yang memilih bersamaku."

"Tidak! Sejak awal kamu hadir menggodanya. Hingga dia memutuskan untuk menduakanku. Tapi ... tapi dia mengabaikanku dan terus bersamamu, Han."

"Jangan mengada-ada, Mus. Bukankah selepas maghrib tadi dia sudah menyentuhmu? Apa salahnya kalau sekarang giliran aku yang dia sentuh?"

"Apa kau bilang, Han? Memang, selepas maghrib dia bermesraan denganku. Tapi kamu? Kamu melekat padanya sejak pagi, siang, hingga semalam ini .... Tak adil, Han! "

"Asal kamu tahu, Mus, aku juga lelah melayaninya terus-terusan. Jangan salahkan aku begitu! Mungkin memang aku lebih menarik daripada kamu."

"Tapi aku, aku yang memberitahunya semua rahasia tentang alam semesta, manusi
a dan kehidupan!"

*Meja dan lemari pun tak bisa tidur mendengar pertengkaran antara Handphone dan Mushaf.

#awasqur'ancemburu.

***

Saya benar-benar syok membaca cerita di atas. Apalagi ending yang tersirat. Dikira cerita yang mengisahkan polemik fenomena poligami, mata sudah kadung mlotot membaca kata demi kata dalam cerita, otak yang mencoba mencerna apa yang terbaca, tapi kenyataannya bukan tentang pertengkaran dua wanita. Cerita di atas adalah pertengkaran antar dua benda fenomenal, Al Quran (mushaf) dan Handphone.

Tanpa terasa, kisah ini mengandung makna yang luar biasa. Bagaimana tidak? Fenomena generasi muda saat ini adalah lebih senang memegang handphone. Pergi ke mana saja, handphone adalah benda terwajib yang mesti di bawa. Berkumpul dengan teman-teman, bukannya mengobrol tapi justru hening memainkan handphone masing-masing. Bagaimana dengan nasib Al Quran? Tidak usah ditanya, Al Quran jelas kalah telak dari Handphone yang memiliki fungsi beragam. Tapi di sisi lain, Al Quran memiliki fungsi yang tidak ada tandingannya. Bagi pembacanya, Al Quran terbukti mampu memberikan aura positif, mengusir kegundahan hati dan sebagai penyejuk hati. Di sisi lain, manusia sebagai makhluk ciptaanNya dapat mempelajari dan mengamalkan apa yang tercantum nyata dalam Al Quran karena Al Quran sendiri adalah pedoman hidup bagi manusia.

Jangan salah, hanya dengan membaca Al Quran saja, hati kita akan tenang, tidak mudah galau dan tidak serta merta tersentuh oleh penyait-penyakit hati lainnya. Berbeda dengan Handphone, handphone sendiri bersifat "memudahkan" aktivitas manusia seperti belajar, mengabadikan foto, blogging, browsing informasi tertentu, stalker status teman, dan lain sebagainya. Namun sayang, saking mudahnya sifat handphone, banyak orang yang memilih hal-hal negatif dengan handphone seperti bermain instagram hingga berjam-jam, terlalu "mengungkapkan" isi hati lewat status di dunia maya, terlalu sering chatting dengan teman di dunia maya, mengolok-olok orang lain lewat situs jejaring sosial, bahkan untuk tingkatan lebih lanjut ada yang sampai mengunduh hal-hal yang tidak pantas untuk dilihat.

Di sini saya bukan bermaksud untuk membela suatu hal lalu memojokkan sesuatu yang lain. Keduanya, baik mushaf ataupun handphone, memiliki kelebihannya tersendiri. Di samping kelebihan-kelebihannya, tergantung kita sendiri yang memanfaatkannya. Al Quran tak lebih dari buku lusuh nan berdebu yang terpajang di lemari jika tak pernah dibuka apalagi dibaca dan direnungi maknanya. Handphone akan menjadi alat yang amat berguna dan alat yang amat perusak, tergantung dengan siapa yang tengah memegangnya. Semuanya masih tergantung tindakan apa yang kita lakukan untuk menoreh manfaat dari suatu hal.

Saya hanya menyampaikan sekelumit fenomena. Karena handphone sendiri bisa menjadi hal yang melalaikan dan terkesan membuang waktu. Berlama-lamaan bermain handphone dapat mengakibatkan lupa waktu, cuek dengan lingkungan sekitar, malas, mata lelah dan enggan membaca Al Quran.

You Might Also Like

1 komentar