Inilah pemandanganku, Sebuah Puisi Kehidupan

Ini pemandanganku Seperti desir desir bisu Kan memuncakkan gurat beda Beda atau sama Bukan untuk sepotong kata Ini  pemandanganku Bukan s...


Ini pemandanganku
Seperti desir desir bisu
Kan memuncakkan gurat beda
Beda atau sama
Bukan untuk sepotong kata

Ini  pemandanganku
Bukan seperti taman surga
Bukan pula bak hentakan hina
Terjerat pilu kisah tanah
Tak setinggi awang Arsyi

Mungkin
Inilah pemandanganku
Percaya, bukti, tidak perlu
Jikalau bukan letak hati yg berserah
Niscaya langkah ini tidak mungkin sesama dulu.


Ini pemandanganku
Beda dengan pemandanganmu
Bukan cahaya tampak
Namun hati yang dipeluk ikhlas
-Itsnahm, 23 Februari 2016

***

Akhir-akhir ini aku mulai menyukai apa itu puisi. Setiap senggang, kusempatkan sekian detik untuk merangkak puisi. Bukan! Bukan sekedar karena senggangnya waktu, namun ada hal lain yang terjadi. Bisa dikatakan masalah.

Yaaahh. Hubungan horizontal alias dengan sesama hamba Allah memang tidak selalu baik-baik saja. Kadang ada hal-hal yang menimbulkan kesalahpahaman. Hingga pada akhirnya, yang dulu kenal dan akrab sekarang seperti siswa pertama kali masuk sekolah dan tengah menjalani MOS. Kalau pertama kali masuk sekolah kita bertemu orang-orang baru yang saling bertegur sapa, kalau ini beda. Kita jadi berjauhan. Tidak menyapa atau cerita-cerita tidak jelas seperti biasanya.

Karena kita adalah perempuan, berakal satu tapi berperasaan sembilan, setiap masalah yang ada selalu pakai hati. Sulit bagi perempuan menggunakan otaknya untuk segala masalah. Hal yang sanggup dilakukan oleh kita sebagai perempuan adalah menangis. Yaps! Wajar kan kalau kita menangis? Terutama jika air mata ini mendesak keluar dan tumpah begitu saja ketika menghadapi orang yang kita sayangi?

Mungkin ada yang beda dengan cara pandang kita mengenai dunia. Dulu, aku mengira kita memiliki satu pandangan yang sama. Istilahnya adalah satu pemikiran. Ternyata baru kusadari sekarang. Kita ini memang berbeda. Tidak pernah sama. Sekalipun satu sama lain menganggap baik-baik saja. Nyatanya tampilan luar tidak menjamin apa yang ditampilkan di dalam.

Entahlah! Ini semua salahku. Tidak seharusnya aku sampai mengecewakan hatinya.

Maafkan aku, wahai teman. Semoga pertemanan dan persahabatan kita ini bermuara ke surga. Dan semoga masalah ini membuat kita menjadi berpikir lebih dewasa dalam menjalani hidup. Aamiin aamiin.*

*Diedit pada Jumat, 26 Februari 2016

You Might Also Like

0 komentar