Piringnya (sudah) Pecah

From http://www.muslimahcorner.com/ Sebenarnya tujuanku menyalakan komputer milik abah adalah untuk keperluan sekolah seperti belajar, mengi...

From http://www.muslimahcorner.com/
Sebenarnya tujuanku menyalakan komputer milik abah adalah untuk keperluan sekolah seperti belajar, mengisi PMDK, mencari segenap informasi tentang perguruan tinggi, dan lain-lain. Namun apalah daya. Terkadang ekspetasi dan realita tidak sama. Bahkan seringkali tidak pernah sama. Malam ini, di hadapanku sudah tersaji buku tulis suci, polpen, kotak pensil, dan detik-detik biologi untuk UN SMA. Tapi, itu semua tidak ada gunanya tersedia di hadapanku. Di sini, malam ini, rupanya aku hanya berselancar internet. Membaca seranai blog beberapa orang terkasih. Tak lupa membaca blog pribadi. Membaca tulisan-tulisan mereka, membuatku ingin menulis. Aku ingin menceritakan suatu hal. Bolehkah? Karena malam ini aku memikirkan seseorang.

Dia. Dia itu perempuan. Temanku sejak lama. Jadi, kita sudah berteman lama. Aku bersyukur berteman dengannya. Aku bersyukur karena Allah memberikanku teman sebaik dia. Dia pintar, baik, cantik, dan semuanya berada dalam satu paket keindahan. Namun, amanah-amanah Allah yang indah tersebut mungkin memberatkan perjalanan hidupnya sesekali. Termasuk juga ketika ia membenciku.


Kami terlibat masalah. Lebih tepatnya, akulah yang bersalah di sini. Aku sudah "memecahkan piring" kepercayaan yang sudah ia titipkan kepadaku. Maaf ya. Ternyata aku tidak bisa menjaga piring itu dengan baik dan benar. Sekarang piringnya sudah pecah jadi serpihan kecil-kecil. Aku kasihan sama dia yang berusaha memungutnya, tapi kemudian disapu begitu saja dan dibuang di tempat sampah. Sepertinya ia ingin melupakan apa yang terjadi dengan membuang serpihan piring yang sudah ditemukan. Sisa serpihan yang masih belum ketemu ia biarkan hilang begitu saja. DIa sudah lelah untuk mencarinya. Sedangkan aku, hanya diam mematung sembari pasrah dengan apa yang ia lakukan.



Seperti yang pembaca ketahui. Piring itu adalah kepercayaan. Aku sudah memecahkan piring kepercayaan itu. Dia mengatakan bahwa aku tidak sengaja melakukannya. Tapi aku sebagai pelaku, secara sadar sudah memecahkannya. Berarti aku sengaja melakukannya.

Inilah kesalahanku. Aku sudah memecahkan sesuatu yang amat berharga. Maaf karena aku tidak menjaga amanah ini dengan segenap hati. Aku bisa merasakan sakit hatimu itu ketika aku memecahkan piring itu. InsyaAllah aku akan lebih hati-hati lagi dalam menjaga "piring-piring" titipan orang lain.

Terimakasih sudah menjadi temanku. Terimakasih telah mendampingi tapak kaki untuk melangkan menuju Allah. Terimakasih telah mengenalkanku lebih dekat dengan Sang Maha Cinta, Allah. Terimakasih atas segala perhatianmu untukku. Terimakasih atas semuanya yang (mungkin) aku sudah lupa untuk mensyukurinya. Kita sudah tidak seakrab dulu lagi. Maafkan aku meskipun kamu tidak bisa memaafkannya. Aku minta maaf.

Aku: "Maaf ya ternyata aku sudah mecahin piring."

Dia: "Gak papa kok. Lagian itu hanya piring plastik."

Plastik?

Plastik?

PLASTIK??!!

*Semoga Allah mempertemukan kita di surgaNya dengan segenap cinta. Aamiin

You Might Also Like

0 komentar