Betapa Perhatiannya Mereka 2

Ini bukan sekedar perhatian. Melainkan sudah menjadi bentuk kasih sayang. Kemarin, saya dan Abah disibukkan dengan mencari data seleksi jalu...

Ini bukan sekedar perhatian. Melainkan sudah menjadi bentuk kasih sayang.

Kemarin, saya dan Abah disibukkan dengan mencari data seleksi jalur mandiri di beberapa universitas. Bingung rasanya. Memang zaman sekarang segalanya sudah lebih mudah dan kita tinggal browsing untuk mencari apa yang diinginkan. Tapi terkadang kita masih kurang mengerti panduan tentang cara mendaftar yang ada di internet. Karena bingung dengan apa yang terjadi, saya mengambil inisiatif tersendiri yang saya ajukan demi masa depan saya.

"Bah, mumpung belum daftar seleksi mandiri dimana pun. Bagaimana kalau Itsna hafalan dulu setahun. Jadi setahun ke depan Itsna gak kuliah."
"Oooow pengennya gitu.", sahut Abah sembari mengangguk pelan. "Ya gak papa sih. Kalau pengennya gitu.".
"Soalnya untuk seleksi mandiri di masing-masing universitas kan ada biaya registrasi. Daripada buang-buang duit. Lagian Itsna belum siap.". Tanpa
disangka Ibuk langsung bangun dari tidur dan ikut nimbrung dalam percakapan kami.

"Jangan gitu dong, Kak. Dicoba dulu. Setahun vakum takutnya kamu down.", sahut Ibuk.
"Iya bener. Takutnya kamu down duluan. Kita menjaga supaya kamu enggak down, Nduk!". sambung Abah. Saya hanya bisa menghelai nafas panjang. Ternyata inisiatif saya kurang disetujui oleh orang tua. Mereka berharap sekali dengan saya untuk melanjutkan kuliah.

Apa yang terjadi akhir-akhir ini juga luar biasa. Terutama Ibuk yang sibuk chatting dengan teman-temannya bahas kuliah dan universitas. Semacam bingung dengan nasib saya ke depan semenjak 28 Juni kemarin mengetahui hasil SBMPTN. Abah sendiri sibuk mencari informasi tentang universitas mana saja yang masih dibuka seleksi mandiri. Saya juga turut membantu mencari seluk beluk tentang pendaftaran, jadwal, materi ujian, dan lain-lain.

***

Saya dan Abah sibuk bertatap muka dengan monitor. Abah yang memegang kendali mouse untuk memahami tata cara pendaftaran. Saya duduk di sampingnya untuk mendampingi. Kami kebingungan kemarin. Pasalnya tata cara atau alur pendaftaran dirasa kurang jelas maksudnya dan cukup membingungkan. Sampai hari ini pun, saya masih belum mendaftar di universitas manapun untuk seleksi jalur mandiri. Tapi Abah tetap mengusahakan yang terbaik untuk saya.

"Jalur mandiri kan jalur terakhir. Kita coba dulu. Kalau memang kurang beruntung, kamu bisa mondok dulu.", ujar Abah kemudian. Saya mengangguk setuju. Memang bukan alasan bagi saya untuk menyerah. Semenjak pengumuman SBMPTN kemarin saya akui saya hopeless untuk masuk kuliah tapi Abah Ibuk yang sebegitu semangatnya mengusahakan saya kuliah membuat saya berpikir beberapa kali. Apakah iya saya harus menyerah begitu saja? Bagaimana dengan Abah Ibuk yang sudah sebegitu perhatiannya dengan nasib saya nanti akan kuliah atau tidak? Jujur saya juga tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah menyayangi saya. 

My true loves, I'm sorry for all. If I made you dissapointed, it because I'm not trying a lot. Seriously! My effort to struggle my future is weird! I'm so sorry but I will try the best again insyaAllah. 

Hope you will always proud of me althought I make you dissapointed later. I will make you proud with other way if I cant study in college. So, please Bah, Buk, pray a lot things for me! I have a lot dreams and I want all of them become true in my future. And when my dreams come true, you will see it and you will proud with me as your first daughter.

Allah! Accept my dreams please and make them come true for my life. Accept my lot dreams and my lot duaa. I'm always believe in You that all of my duaa are never vain. Ya Allah! Please... All of it for my true love in my world, Abah and Ibuk.

bersambung...

You Might Also Like

0 komentar