Efek Menggunjing Orang Lain

Baru saja saya membaca beranda line. Ada sebuah kisah yang membuat saya tersentuh. Betapa tidak, kisah ini dalam diamnya menyindir saya keti...

Baru saja saya membaca beranda line. Ada sebuah kisah yang membuat saya tersentuh. Betapa tidak, kisah ini dalam diamnya menyindir saya ketika dibaca.

***

Mu’adz, Pemimpin Golongan Ulama di Hari Kiamat 

MU’ADZ bin Jabal termasuk sahabat Anshar pada periode awal, ia telah memeluk Islam pada Ba’iat Aqabah ke dua, sehingga ia termasuk dari golongan as sabiqunal awwalun. Saat itu ia masih sangat muda, tetapi justru kemudaannya tersebut yang membuat ia lebih mudah dan lebih banyak menyerap ilmu-ilmu keislaman.

Ia termasuk sahabat yang berani mengemukakan buah pikirannya, seperti halnya Umar bin Khaththab, namun demikian ia tetap seorang yang rendah hati. Ia tidak pernah begitu saja mengemukakan pendapat atau pemikirannya (ijtihadnya) kecuali jika diminta atau diberi waktu mengemukakannya. Karena begitu luas dan mendalamnya pengetahuan yang dimilikinya, terutama menyangkut hukum-hukum Islam (Ilmu Fikih), Nabi SAW pernah bersabda tentang dirinya, 

“Ummatku yang paling tahu akan halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal…”
Atas dasar sabda Nabi SAW inilah banyak sahabat-sahabat yang menjadikan
Mu’adz sebagai rujukan jika ada permasalahan menyangkut hukum-hukum Islam (Fikih). Bahkan Umar bin Khaththab, yang diakui kecerdasannya oleh Nabi SAW, pada saat menjadi khalifah banyak meminta pendapat dan buah fikiran Mu’adz dalam memutuskan suatu permasalahan. Sampai akhirnya Umar berkata, “Kalau tidaklah karena Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar…”

Ketika Nabi SAW akan mengirimnya ke Yaman untuk membimbing dan mengajarkan seluk-beluk keislaman kepada penduduk di sana, beliau bertanya kepada Mu’adz, “Apa yang menjadi pedoman bagimu untuk mengadili dan memecahkan suatu masalah, ya Mu’adz?”
“Kitabulah, ya Rasulullah!” Jawab Mu’adz.
“Jika tidak engkau temukan dalam Al Qur’an?”
“Akan saya cari pemecahannya berdasarkan sunnah-sunnahmu, Ya Rasulullah!”
“Jika tidak engkau dapatkan juga?”
“Saya akan menggunakan pikiran saya untuk berijtihad, dan saya tidak akan berlaku sia-sia (dzalim, tidak untuk kepentingan pribadi dan duniawiah).”

Bersinarlah wajah Rasulullah SAW pertanda bahwa beliau puas dan senang dengan penjelasan Mu’adz, kemudian beliau bersabda,
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah, sebagaimana yang diridhai Rasulullah.”

Suatu malam Mu’adz bermaksud menemui Rasulullah SAW, tetapi ternyata beliau sedang mengendarai unta, entah hendak pergi kemana. Melihat kedatangannya, beliau meminta Mu’adz naik ke belakang beliau, berboncengan berdua, unta pun melanjutkan perjalanan. Beliau memandang ke langit, setelah menyanjung dan memuji Allah SWT, beliau bersabda kepada Mu’adz, “Wahai Mu’adz, aku akan menceritakan suatu kisah kepadamu, jika engkau menghafalnya akan sangat berguna bagimu. Tetapi jika engkau meremehkannya, engkau tidak akan punya hujjah (argumentasi) di hadapan Allah kelak.”

Nabi SAW menceritakan, bahwa sebelum penciptaan langit dan bumi, Allah telah menciptakan tujuh malaikat. Setelah bumi dan langit tercipta, Allah menempatkan tujuh malaikat tersebut pada pintu-pintu langit, menurut derajat dan keagungannya masing-masing. Allah juga menciptakan malaikat yangmencatat dan membawa amal kebaikan seorang hamba ke langit, menuju ke hadirat Allah, yang disebut dengan malaikat hafadzah.

Suatu ketika malaikat hafadzah membawa ke langit, amalan seorang hamba yang berkilau seperti cahaya matahari. Ketika sampai di langit pertama, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit pertama itu berkata, “Tamparkan amalan ini ke wajah pemiliknya. Aku adalah penjaga (penyeleksi) orang-orang yang suka mengumpat (Ghibah, jawa: ngerasani). Aku ditugaskan untuk menolak amalan orang yang suka ghibah. Allah tidak mengijinkannya melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat yang lain, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat banyak dan terpuji. Ia berhasil melalui langit pertama karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah. Ketika sampai di langit kedua, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke dua itu berkata,
“Berhenti! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, sebab ia beramal dengan mengharap duniawiah. Allah menugaskan aku untuk menolak amalan seperti ini dan melarangnya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat yang lain lagi, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat memuaskannya, penuh dengan sedekah, puasa dan berbagai kebaikan lainnya, yang dianggapnya sangat mulia dan terpuji. Ia berhasil melalui langit pertama dan kedua karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah dan tidak mengharapkan balasan duniawiah.
Ketika sampai di langit ke tiga, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana.

Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke tiga itu berkata, “Berhenti! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya! Aku adalah malaikat penjaga kibr (kesombongan), Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang suka sombong (bermegah-megahan) dalam majelis. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”
Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.

SAAT yang lain lagi, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang bersinar seperti bintang kejora, bergemuruh dengan penuh dengan tasbih, puasa, shalat, haji dan umrah. Ia berhasil melalui langit pertama, ke dua dan ke tiga karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah dan juga tidak sombong.

Ketika sampai di langit ke empat, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke empat itu berkata “Berhenti! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya! Aku adalah malaikat penjaga sifat ujub. Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang disertai ujub. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat yang lain, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat mulia, terdiri dari jihad, haji, umrah dan berbagai kebaikan lainnya sehingga sangat cemerlang seperti matahari. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke empat, karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong dan juga tidak ujub dalam beramal.

Ketika sampai di langit ke lima, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana.
Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke lima itu berkata “Berhenti! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya! Aku adalah malaikat penjaga sifat hasud (iri dengki). Meskipun amalannya sangat baik, tetapi ia suka hasud kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah. Itu artinya ia membenci Allah yang memberikan kenikmatan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat lainnya, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat sempurna dari wudhu, shalat, puasa, haji dan umrah. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke lima, karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong, tidak ujub dalam beramal, dan juga tidak suka hasud pada orang lain.
Ketika sampai di langit ke enam, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke enam itu berkata, “Berhenti! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga sifat rahmah. Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang tidak pernah mengasihani orang lain. Bahkan jika ada orang yang ditimpa musibah, ia merasa senang. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat lain lagi, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang bersinar-sinar seperti kilat menyambar dan bergemuruh laksana guruh menggelegar, terdiri dari shalat, puasa, haji, umrah, wara’, zuhud dan berbagai amalan hati lainnya. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke enam, karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong, tidak ujub dalam beramal, tidak suka hasud pada orang lain, dan juga seorang yang penuh kasih sayang (rahmah) pada sesamanya.

Ketika sampai di langit ke tujuh, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke tujuh itu berkata, “Berhenti! Tamparkanlah amalan ini ke muka pemiliknya!! Aku adalah malaikat penjaga sifat sum’ah (suka pamer). Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang suka memamerkan amalannya untuk memperoleh ketenaran, derajad dan pengaruh terhadap orang lain. Amalan seperti ini adalah riya’, dan Allah tidak menerima ibadahnya orang yang riya’. Allah tidak mengijinkannya melewati akuuntuk sampai ke hadirat Allah SWT.”

Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.

PADA saat lainnya, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba berupa shalat, puasa, zakat, haji, umrah, akhlak mulia, pendiam suka berdzikir, dan beberapa lainnya yang tampak sangat sempurna. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke tujuh karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong, tidak ujub dalam beramal, tidak suka hasud pada orang lain, seorang yang penuh kasih sayang (rahmah) pada sesamanya, dan juga tidak suka memamerkan amalannya (sum’ah). Paramalaikat dibuat terkagum-kagum sehingga mereka ikut mengiring amalan itu itu sampai di hadirat Allah SWT.

Ketika amal tersebut dipersembahkan malaikat hafadzah, Allah berfirman, “Hai malaikat hafadzah, Aku-lah yang mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk Aku tetapi untuk selain Aku, bukan diniatkan dan diikhlaskan untuk-Ku. Aku lebih mengetahui daripada kalian, dan Aku laknat mereka yang menipu orang lain dan menipu kalian (malaikat hafadzah, dan malaikat-malaikat lainnya yang menganggapnya sebagai amalan hebat), tetapi Aku tidak akan tertipu olehnya.

Aku-lah yang mengetahui hal-hal ghaib, Aku mengetahui isi hatinya. Yang samar, tidaklah samar bagi-Ku, Yang tersembunyi, tidaklah tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan-Ku atas segala yang telah terjadi, sama dengan Pengetahuan-Ku atas segala yang belum terjadi.

Ilmu-Ku atas segalayang telah lewat, sama dengan Ilmu-Ku atas segala yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang terdahulu, sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang kemudian. Aku yang paling mengetahui segala sesuatu yang samar dan rahasia, bagaimana bisa hamba-Ku menipu dengan amalnya. Bisa saja mereka menipu mahluk-Ku tetapi Aku Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib tetaplah laknat-Ku atas mereka.”

Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat juga berkata, “Ya Allah, kalau demikian keadaannya, tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka.”

Kemudian para malaikat dan seluruh penghuni langit berkata, “Ya Allah,tetaplah laknat-Mu dan laknat orang-orang yang melaknat atas mereka.”

Begitulah, panjang lebar Nabi SAW menceritakan kepada Mu’adz bin Jabal, dan tanpa terasa ia menangis tersedu-sedu di boncengan unta beliau. Ia berkata di sela tangisannya, “Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari semua yang engkau ceritakan itu?”
“Wahai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam masalah keyakinan!” Kata Nabi SAW.
“Engkau adalah Rasulullah, sedangkan aku hanyalah Mu’adz bin Jabal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari semua itu…” Kata Mu’adz.
“Memang begitulah,” Kata Nabi SAW, “Jika ada kelengahan dalam ibadahmu, jagalah lisanmu agar tidak sampai menjelekkan orang lain, terutama jangan menjelekkan ulama.”

Panjang lebar Nabi SAW menasehati Mu’adz bin Jabal, yang intinya adalah menjaga lisan dan hati, jangan sampai melukai dan menghancurkan pribadi orang lain. Akhirnya beliau bersabda, “Wahai Mu’adz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi orang yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu. Bencilah (larilah) dari sesuatu yang engkau membencinya (yakni, akibat buruk yang diceritakan Nabi SAWdi atas), niscaya engkau akan selamat.”

Rasulullah SAW tahu betul bahwa Mu’adz bin Jabal sangat mengetahui hukum-hukum Islam (Fikih), yang pada dasarnya bersifat lahiriah. Dengan menceritakan kisah tersebut, beliau ingin melengkapi pengetahuan dan pemahamannya dari sisi batiniah, sehingga makin sempurna pengetahuan keislamannya. Dan tak salah kalau kemudian Nabi SAW pernah bersabda, “Mu’adz bin Jabal adalah pemimpin golongan ulama di hari kiamat.”

Sebagaimana umumnya para sahabat Anshar, Mu’adz hampir tidak pernah terlewat dalam berbagai perjuangan dan jihad bersama Rasulullah SAW. Perang Badar, Uhud, Khandaq dan berbagai pertempuran lain diterjuninya. Ketika Nabi SAW wafat, Mu’adz sedang berada di Yaman untuk mengemban tugas Nabi SAW, menjadi Qadhi dan mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada penduduknya, yang kebanyakan memeluk Islam pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah SAW. Mu’adz sendiri meninggal pada masa Khalifah Umar bin Khaththab akibat wabah penyakit thaun yang melanda kota Amwas, antara Ramalah dan Baitul Maqdis, termasuk wilayah Syam.


***

Kata Cak Lontong menjelang berbuka puasa di Net Tv, bergosip itu asyik. Saking asyiknya, ketika berkumpul dengan teman rasanya kurang afdol tanpa gosipin orang. Kadang tanpa sadar mulut kita sudah asyik membicarakan orang lain. Seperti kata Cak Lontong, saking asyiknya.

Hati saya terenyuh ketika membaca kisah di line. Anyway saya juga manusia biasa. Saya juga cewek seperti kebanyakan cewek-cewek di dunia ini yang suka ngomongin orang lain. Dulu saya sering mengurus urusan orang lain dalam artian selalu membicarakan orang tersebut di belakangnya. Tanpa terasa pun, gosip bisa jatuh ke hal-hal lebih buruk lagi seperti menjelekkan orang yang kita gosipin. Tanpa terasa kita jadi memfitnah orang lain. Tanpa terasa kita melakukan hal-hal buruk lagi. Padahal yang kita anggap buruk belum tentu buruk. Sejatinya kita tidak tahu apa ada dalam diri seseorang. Bisa jadi dia justru lebih baik dari kita. Bisa jadi derajatnya di hadapan Allah lebih tinggi dibanding kita. Bisa jadi Allah lebih sayang dan lebih menyukai dia dibanding kita karena Allah suka dengan perbuatan baiknya. Barangkali.... Hanya Allah yang tahu segalanya.

Ketika membaca kisah ini, saya ingat betul bahwa saya pernah menceritakan keburukan seseorang. Kalau diingat-ingat sekarang rasanya miris sekali. Bayangkan saja saya sudah ngomongin dia dan saya juga sudah menjelek-jelekkannya. Bayangkan saja kalau amal saya selama ini ditolak oleh malaikah di pintu-pintu langit hanya karena ngomongin orang yang tidak penting. Saya sudah ibadah capek-capek tapi tidak diterima. Kan sakit...

Belum lagi para malaikat yang melaknat saya. Astagfirullah. Masalahnya, saya tidak hanya membicarakan satu orang saja sepanjang hidup saya tapi banyak orang. Bayangkan saja. Berapa banyak amalan saya yang malaikat saja menolak mentah-mentah. Apalagi Allah. Jelas tertolaknya. Astagfirullahal adzim.

Saya hanya manusia biasa. Saya belajar sebisa mungkin untuk tidak membicarakan orang lain. Pertama, saya sadar diri bahwa saya tidak sebaik mereka yang mungkin dianggap jelek oleh banyak orang. Saya yakin bahwa Allah lebih mengetahui tentang orang yang dianggap jelek itu dibanding kebanyakan orang yang menganggapnya jelek. Saya hanya iri membayangkan kalau Allah lebih sayang dengan orang tersebut dibanding saya. Allah lebih suka sama orang tersebut daripada saya karena suatu hal yang entah apa itu hanya Allah yang tahu. Intinya, ada baiknya berkaca diri karena saya juga memiliki sisi buruk yang harus diperbaiki. Syukur-syukur Allah masih mau menutup aib saya selama ini.

Kedua, membicarakan orang lain terutama tentang keburukannya membuat amal kita ditolak langit. Malaikat saja menolak amalan kita jika kita menggunjing orang lain. Apalagi Allah. Amalan yang sudah capek-capek dilakukan justru dilempar dan dikembalikan ke pemiliknya hanya karena mengurus orang lain. Belum lagi dilaknat malaikat. Bayangkan saja! Efek lain dari ngegosip adalah dosa-dosa orang yang kita bicarakan bisa masuk ke dalam daftar amalan buruk kita. Artinya kita menanggung dan memindahkan hak milik dosa-dosa orang yang kita bicarakan. Astagfirullah.

InsyaAllah saya akan memperbaiki diri sebisa mungkin. Perempuan memang identik dan tidak bisa dipisahkan dari yang namanya bergosip tapi harus berusaha pelan-pelan untuk berubah. Jangan jadikan ngegosip sebagai kebiasaan.Upayakan untuk tidak membicarakan orang lain dan lebih banyak intropeksi diri.

Well, small badness will be big badness if you cant handle and stop your bad habits. Expecially gosip a.k.a. talking about someone. Gosip is very bad habit! Daripada mengurus urusan orang lain. Daripada amalan ditolak mentah-mentah sama malaikat terutama Allah. Daripada "merebut" hak milik dosa orang lain. Hmmmmmmmm.


You Might Also Like

0 komentar