Kakak sayaaaaang banget sama kamu (3)

Juni 29, 2016

Waktu Kamu akan Datang (3)

Abah pun tidak punya pilihan lain selain berusaha sampai titik terakhir. Usaha yang bisa dilakukan Ibuk adalah tetap menjalankan operasi caesar. Abah pun menyetujui dengan cara mentandatangani berkas-berkas yang diberikan oleh tim dokter. Karena bagi Ibuk melahirkan normal sudah tidak mungkin lagi. Terlalu berisiko. Operasi pun dilaksanakan dengan syarat Ibuk harus berpuasa beberapa jam sebelumnya.

Operasi pun dimulai. Terjadi perdebatan sengit antara dokter anestesi untuk berapa ukuran obat bius yang cocok untuk Ibuk. Mengingat jantung Ibuk dalam kondisi lemah dan jika terjadi kesalahan jantung Ibuk akan berhenti. Benar-benar menegangkan. Abah di luar hanya bisa menunggu dengan pasrah dan terus menerus berdoa. Rasanya sudah terlalu abstrak untuk dijelaskan pada waktu itu.

Beberapa jam pasca dimulainya operasi kali pertama, suara tangisan membuncah memenuhi ruangan. Bayi mungil sudah berhasil selamat terlahir ke dunia meski tidak melalui jalan seharusnya. Abah dipandu tim dokter untuk memasuki ruang operasi. DIkenakan baju steril warna hijau dan diminta untuk melihat si bayi. Abah menggendong bayi tersebut yang masih menangis
sejadi-jadinya. Sekilas kemudian bayi itu dibawa oleh tim dokter untuk dibersihkan. Perasaan Abah campur aduk saat itu. Abah bersyukur karena bayi mungil yang ditunggu-tunggu kehadirannya bisa mendatangi dunia ini dengan selamat. Perempuan yang cantik! Abah membingungkan Ibuk karena ketika di ruang operasi Abah belum sempat melihat kondisi Ibuk. Abah hanya bisa berdoa sejadi-jadinya demi keselamatan Ibuk. Pasrah dan berdoa, apalagi yang sanggup dilakukan Abah selain dua hal itu sekarang?

Beberapa hari kemudian, Ibuk baru bisa ditengok. Keadaannya masih belum sadar -karena dalam kondisi koma-. Selang bening memasuki rongga mulut hingga tenggorokan menandakan fungsinya sebagai alat bantu nafas. Kabel warna warni yang entah apa fungsinya banyak menempel di sekujur tubuh Ibuk. Belum lagi beberapa layar monitor dan perlengkapan lainnya yang selalu hidup seakan demi menyambung kehidupan Ibuk. Keadaannya membuat Abah tidak tega untuk melihat. Abah, Mbak Ton dan Bu Sunarmi selalu mendoakan sebisanya memohon kesembuhan Ibuk.

Ibuk pun terbangun. Saat-saat ketika Ibuk membuka mata, Ibuk merasa silau dengan lampu ruangan bersinar putih yang tepat menghujam cahaya di atas wajahnya. Ingin rasanya mematikan lampu tapi rasanya tidak bisa bergerak. Untuk berbicara pun tidak bisa. Ternyata selain mulut yang tertutup selang, tangan dan kaki Ibuk diikat kuat untuk menghindari adanya gerakan yang tidak diinginkan. Sekilas Ibuk memberi kode kepada suster yang melihat Ibuk sadar, tapi suster itu masih bingung dengan apa yang Ibuk maksud. Ibuk juga merasa gerah sekali. Ingin rasanya menurunkan suhu AC ke titik maksimal agar suhu bertambah dingin. Ketika Ibuk memberi kode untuk suster, lagi-lagi suster kebingungan dengan apa yang Ibuk maksud.

Kondisi Ibuk kian membaik. Abah pun diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan. Ketika Abah masuk, Ibuk langsung memberi kode. Ibuk menggerakkan jemari tangannya. Dengan cepat Abah langsung menangkap maksud Ibuk,

"Uwes ojo mikir enteke piro sek. Mikir kesehatan disek." (Udah jangan mikir habisnya berapa dulu. Mikir kesehatan dulu)

bersambung...

You Might Also Like

0 komentar