Bersyukurlah!

Beberapa tahun lalu, ketika saya masih menjadi remaja labil -sekitar umur 12 hingga 17 tahun- adalah masa-masa pencarian jati diri. Bisa dik...

Beberapa tahun lalu, ketika saya masih menjadi remaja labil -sekitar umur 12 hingga 17 tahun- adalah masa-masa pencarian jati diri. Bisa dikatakan pada rentan umur segitu adalah masa-masa rentan dalam hidup saya. Pada umur-umur tersebut adalah penentuan bagaimana diri dan pola pikir saya di masa mendatang termasuk sekarang.

Well, saya dari dulu di rumah. Saya selalu di rumah. Hampir tidak pernah hang out like another friends. Selalu di rumah seperti sudah menjadi takdir bagi saya. Keadaan tersebut juga didukung dengan ketidakmampuan saya untuk mengendarai sepeda motor bahkan bersepeda pun saya tidak bisa megendarainya. Saat SD kelas kecil, sebenarnya saya sudah sering keluar rumah bahkan lama tidak pulang-pulang dengan mengendarai sepeda bersama tetangga. Tapi semenjak kelas 4 SD, sepeda saya rusak dan jadilah saya anak rumahan hingga sekarang. Belum lagi dengan fasilitas internet yang super free at my home membuat saya menjadi lebih betah di rumah.

Sekitar tahun 2009, saya membuat blog. Saya cukup kreatif dalam dunia blogging waktu itu. Tapi semenjak mengenal Facebook pada tahun 2010, sifat produktiviktas saya perlahan mengalami hibernasi. Saya lebih suka melihat kabar terbaru teman-teman daripada menulis suatu hal untuk mengisi blog. Saya pun mampu menghabiskan a lot of time hanya demi membuka Facebook dan berinteraksi secara maya dengan teman-teman. Setiap hari yang dibuka
hanya Facebook. Ketika teringat kebiasaan tidak baik ini, saya berpikir mungkin saya sudah terkena Facebook addict waktu itu.

Saya masih teringat betul bahwa waktu sepanjang SMP saya habiskan untuk membuka Facebook. Hal itu diperparah dengan beberapa pengalaman saya tentang cinta. Sebagai remaja labil, tidak seru rasanya bila tidak mengikuti tren waktu itu. Seperti update status. Setiap saat, saya selalu merangkai kata mutiara bertema cunta untuk diunggah di Facebook. Dengan alasan lagi galau, saya menjadi alayer yang memposting kata-kata "menjijikkan". Kebiasaan buruk saya ini jelas saja mendapat teguran dari Ibuk berulang kali. Ibuk selalu menasehati betapa tidak baiknya setiap hari update status bahkan dengan kata-kata alay seperti itu. Tapi kembali lagi, namanya juga remaja labil. Apa yang bisa saya pikirkan waktu itu? Tidak ada!

SMA pun saya jalani dengan penuh dominasi cinta dan galau. Seakan bagi saya dulu, cinta adalah segalanya dan cinta itu indah sekali. Tapi sekali patah hati, hal itu membuat konsentrasi saya terpecah belah dalam segala hal. Waktu pun berlalu. Pembelajaran demi pembelajaran dari setiap pengalaman memberikan saya sesuatu yang berharga yakni kedewasaan dan kebijaksanaan. Meskipun masih muda dan belum ada apa-apanya, saya yang sekarang sudah lebih bisa memiliki pendirian dan pemikiran tersendiri dibanding saya dulu yang mudah terombang-ambing oleh tren hal-hal tidak penting. Paling tidak, saya yang sekarang bisa berpikir dulu akan suatu hal sebelum benar-benar terjun melakukannya. Bisa dikatakan saya menjadi lebih kritis dan mau berpikir lebih tentang suatu hal dibanding hanya sebagai follower of such bad things. 


***

Saya diberi adik oleh Allah pada tanggal 20 Maret 2012. Big thankful to Allah because it is my ask for a very very long time! Dia perempuan. Lucu dan cantik. Lumayan lah sebagai penghibur dari kesibukan sekolah. Tapi saya belum melihat hal-hal lain di balik kehadiran adik baru. Ternyata kehadirannya membuat sebagian waktu saya tersita. Saya yang muda ini seharusnya bisa menikmati segala hal yang bisa saya lakukan seperti anak muda pada umumnya. Maybe like hang out, make planning for best trip, make relationship with someone who is my love, meeting with all my friends, and another things that make me feel happy if I do it so. Dari sini saya dulu sempat merasa iri dengan mereka yang bisa bebas do something that they want and I look they are look happy because it. Saya juga manusia biasa. Terkadang saya bisa dengan khilaf dengan menginginkan kehidupan orang lain. 

Apa yang bisa saya lakukan sebagai anak rumahan yang sebagian besar waktunya tersita demi mengurus dan momong adik kecil tercinta? Di sinilah saya tidak melihat sisi baik di balik keadaan saya sekarang sebagai anak rumahan karena terlalu melihat kehidupan orang lain. You know that pergaulan anak muda zaman sekarang sudah melampau batas. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan sudah tidak mengindahkan syariat Islam yang ada. Mereka bebas melakukan apa saja. Mereka bisa seenaknya hang out ke suatu tempat hits hanya karena ingin dikatakan keren, tapi nyatanya mereka masih menggunakan uang orang tua untuk sesuatu yang tidak penting. Banyak dari anak muda yang asal mengikuti tren yang belum tentu tren itu baik untuk diikuti. Banyak dari mereka yang over untuk mengagumi sesuatu yang belum tentu baik untuk mereka. Dan lain-lain. Pada intinya, kebanyakan dari anak muda sudah rusak moralnya oleh suatu hal yang disebut tren. Mereka ingin dikatakan keren. Padahal tanpa sadar itulah yang merusak diri mereka sendiri.


Saya mungkin tidak pernah keluar rumah untuk survive langsung kehidupan anak muda masa kini. Tapi saya cukup tahu melalui berbagai sosial media. Semua yang terpampang di sosial media sudah menjadi bukti nyata betapa mengerikannya pergaulan bebas. Saya sebagai anak rumahan merasa bersyukur sekali. Rupanya Allah selalu melindungi saya selama ini. Bahkan hingga sejauh ini. Allah selalu mempertemukan saya dengan cinta yang membuat patah hati supaya saya tidak melakukan hubungan yang sia-sia and just waste a lot my time. Allah tidak memperkenankan saya mengendarai kendaraan pribadi agar saya tidak terlalu sering keluar dan terlalu banyak memiliki teman. Allah memberikan saya adik kecil supaya saya lebih asyik di rumah daripada asyik bersama teman-teman yang belum tentu memiliki akhlak dan keimanan yang baik. Because how we are depends how our friends are. Without conscious, friends can encourage us to do something despite it is worst things. 

Alhamdulillah. Allah memberikan sesuatu yang tidak pernah saya syukuri sebelumnya.

Mungkin saya tidak seperti orang lain. Mungkin saya memiliki jauh lebih banyak kekurangan daripada mereka. Tetapi saya selalu mensyukuri apa yang ada dalam diri saya sendiri. Seperti apapun keadaan kita, kita harus bersyukur kepada Allah. Betapa banyak anak muda yang menyesal karena pergaulan bebas dan barangkali ingin menjadi seperti saya. Betapa banyak anak muda yang sudah terlanjur menjadi drugs addict dan ingin kembali ke rumah. Betapa banyak anak muda yang kehilangan orang tua karena takdir Allah, tapi hingga detik ini saya masih bisa merasakan kasih sayang kedua orang tua. Betapa banyak orang yang terlahir tunggal dan sangat mendambakan adik kandung sementara saya diberi karunia adik baru oleh Allah. Betapa banyak orang yang tidak memiliki tempat tinggal sedangkan saya bisa mengepel rumah sendiri setiap hari. Betapa banyak anak-anak yang tidak dapat makan bahkan sampai mati kelaparan sedang saya di sini selalu mencuci banyak piring sehabis saya makan. Betapa banyak orang yang tidak memiliki tangan sedangkan saya diberi Allah nikmat dua tangan yang sehat dan kuat untuk mencuci baju setiap hari. Mungkin dulu ketika awal-awal saya merasa capek dan selalu mengeluh kenapa saya yang harus mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh pembantu. But before something happens I got best lesson bahwa ketika saya bisa bersyukur, apapun yang saya lakukan tidak terasa melelahkan dan bisa mengerjakan dengan sepenuh hati tanpa Ibuk ngomel-ngomel duluan.

Maybe they are can do everything that their want because they are have so many many free time. But I am here always thankful to Allah at all that I get from His love. Its okay if I don't have maid rather than a lot teenagers in there outside. I just look at another side because I belive that Allah always fair for every His servants fate. Always thankful and positive thinking at all. :)

Jadi, begitulah cerita panjang saya. Saya yang dulu bukanlah yang sekarang. Alhamdulillah karena Allah memberi saya pengalaman-pengalaman berharga untuk membukakan hati saya. Because Allah always with me everywhere, everytime, and everyday. Because Allah always loves me, hehe.

Maybe this article be my best opinion about something. Thankful for Allah because He gave me idea to write something new to my blog. Let's say Alhamdulillahirabbil 'alamin. :.)

You Might Also Like

0 komentar