Kakak sayaaaaang banget sama kamu (4)

Bayi mungil cantik sedang di ruangan khusus untuk bayi dengan lahir caesar. Bayi itu masih belum bernama. Tapi sebentar lagi namanya akau di...

Bayi mungil cantik sedang di ruangan khusus untuk bayi dengan lahir caesar. Bayi itu masih belum bernama. Tapi sebentar lagi namanya akau diberi dengan nama yang aku buat, Lia Ardhani Rusyda dengan panggilan Lia.

Lia kecil berparas cantik. Itu jika dibandingkan dengan bayi-bayi dalam ruangan tersebut. Alhamdulillah Lia terlahir normal secara fisik dan secara naluri yaitu kerap menangis bahkan keras sekali. Bayi-bayi lain mungkin tidak seberuntung Lia. Kebanyakan dari mereka menderita cacat fisik yang memang sudah Allah takdirkan sebagai ujian mereka dalam mengarungi dunia.

"Cantiknya bayi ini.", ujar seorang ibu dengan kagum. Ia menatap Lia dengan penuh gemas. Abah yang di sampingnya diam-diam tersenyum. Rupanya ibu itu tidak tahu bahwa orang yang di sampingnya adalah bapak dari anak tersebut. Abah menatap Lia dari kaca jendela ruangan. Kebetulan tempat tidur Lia berada di dekat jendela. Jadi siapapun bisa dengan mudah melihat
Lia. Bukan hanya satu orang yang memuji betapa sempurna fisik dan rupa bayi Lia, tapi banyak orang. Mungkin mereka adalah para orang tua yang baru saja memiliki anak, atau mungkin baru saja kehilangan anak. Atau bahkan memiliki seorang bayi yang satu ruangan dengan Lia -memiliki cacat fisik-.
Hari-hari berikutnya,  kesehatan Ibuk telah membaik dan diperbolehkan untuk pulang. Lia yang selama ini berada di ruang steril bisa dibawa keluar. Abah,  Ibuk, Lia, Mbak Ton dan Bu Surnami pun pulang. Kepulangan mereka diiringi oleh tangisan bayi Lia. Meskipun begitu, mereka nampak sangat bahagia.

Aku menunggu kepulangan Ibuk dengan perasaan tidak menentu. Abah sama sekali tidak memberi kabar tentang perkembangan kondisi Ibuk selama di Surabaya. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Ibuk.

Akhirnya Ibuk beserta rombongan sudah sampai di rumah. Aku yang masih kecil bingung bagaimana cara menyambut Ibuk yang sakit. Bu Sunarmi tidak bisa menunggu lebih lama karena ada urusan rumah yang harus dikerjakan. Mbak Ton masih bisa menunggu di rumah dan merawat Lia kecil yang masih rapuh. Ibuk juga perlu banyak istirahat pasca operasi yang dilakukannya.
Aku ingat betul ketika sampai di rumah, Ibuk menyuruh salah satu karyawan untuk membuat segelas es susu untuknya. Setelah makan dan minum, Ibuk mendadak sesak nafas. Abah langsung melarikannya ke rumah sakit Baptis Kediri. Rupanya Ibuk tidak diperbolehkan minum banyak oleh dokter karena jantungnya tidak kuat untuk memompa cairan tubuh. Di saat bayi mungil sudah aman di rumah, Ibuk justru kembali ke rumah sakit. 

Dokter menyatakan bahwa Ibuk seharusnya membatasi porsi air minum yang masuk ke tubuh. Sekali lagi, karena kondisi jantung yang sakit. Padahal Ibuk adalah penggila minuman berasa dan dingin terutama sirup. Jarang sekali Ibuk meminum air putih. Kalaupun benar-benar minum air putih, air putihnya harus yang dingin. 

Kurang lebih seminggu, Ibuk sudah bisa pulang. Akhirnya saya bisa bertemu Ibuk lagi. Ibuk harus benar-benar bed rest untuk menghindari rasa lelah berujung kehausan. Ibuk pun tidak bisa mengurus bayi kecil Lia sendiri karena memang harus benar-benar istirahat. Ada Mbak Ton yang tinggal di rumah sementara untuk mengurus Lia. Waktu itu aku berumur 15 tahun dan di umur segitu saya masih belum "hidup". Saya hanya peduli dengan kehadiran adik baru. Selebihnya seperti masalah mengurus, ganti popok, memandikan, dan semuanya itu bodo amat. Tidak ada pikiran sama sekali bagi seorang Itsna untuk turut membantu mengurus Lia mungil di saat Ibuk masih sakit. Very bad to admit and remember my worst past. T_T

bersambung...




You Might Also Like

0 komentar