Kesal Mendengar Keluhan Orang Lain

Kemarin malam, sehabis pulang dari rumah mbah kung. kami langsung senang merasakan suasana rumah yang kami rindukan. Ilham langsung menyalak...

Kemarin malam, sehabis pulang dari rumah mbah kung. kami langsung senang merasakan suasana rumah yang kami rindukan. Ilham langsung menyalakan komputer. Saya langsung connect wifi via hp. Malum di rumah mbah kung ibarat negeri tanpa sinyal. Jadi, kami sebagai anak kota pasti merindukan sinyal dan internet. Hehe

Beberapa waktu kemudian ketika main komputer, Ilham bicara sendiri. Semacam mengeluh gitu sambil terus bermain komputer. Saya kesal mendengarnya. Karena penasaran, saya hampiri Ilham. Oalaaaah. Ternyata komputer yang dimainkan Ilham agak hang atau rusak. Ilham kesal karena game yang dimainkannya justru macet-macet. Saya mengingatkan Ilham untuk jangan mengeluh sendirian karena saya males mendengarkan. Ilham iya iya saja.

Ketika saya bersih-bersih, Ilham mengeluh lagi. Saya coba biarkan saja. Tapi rasanya telinga ini sakit untuk mendengar keluhan orang. Akhirnya saya hampiri Ilham dengan sedikit marah. Saya ingatkan Ilham untuk jangan mengeluh karena kalau mengeluh terus tidak akan
menyelesaikan komputer yang hang. Ilham lagi-lagi jawab iya saja. Saya pun kembali bersih-bersih. Beberapa menit kemudian, saya mendengar Ilham menggerutu tidak jelas. Lama kelamaan saya semakin kesal saja.

"Ilham! Komputernya capek! Sudah istirahat besok main lagi!".
"Gak mau!".
"Tapi komputernya capek butuh istirahat biar bisa lagi.".
"Gak mau kaaaaak gak mau.".

Akhirnya duel antar kakak adik pun tak dapat dihindarkan. Duel mulut maksudnya. Saya ngomong dengan nada tinggi. Ilham teriak-teriak sambil nangis. Saya bersikeras menyuruh dia berhenti mainan komputer, dia bersikeras untuk tetap mainan komputer. Ego kami sama-sama tinggi dan sampai beberapa menit belum ada yang mau mengalah. Tapi sebagai kakak, saya cenderung memiliki ego lebih tinggi -mungkin-. Jadi dengan tegas saya paksa untuk berhenti main komputer. Saya cabut kabel komputer dari stopkontak. Layar komputer pun benar-benar mati. Ilham teriak keras sambil menangis disertai guling-guling, salto, kejang-kejang, atau terserah apa lagi. Bodo amat! Saya benar-benar kesal mendengar Ilham menggerutu. Kalau komputer rusak seharusnya usaha supaya komputernya tidak hang lagi seperti lapor Abah, merestart komputer, dan lain-lain. Daripada diam dan mengeluh doang. Complaining has not solved problems.

Karena hati saya dirundung emosi habis berantem sama Ilham, saya meredakan emosi dengan solat. Ketika solat, saya mulai mikir sesuatu. Kita saja sebagai manusia bisa kesal jika mendengar keluhan orang lain. Telinga rasanya tidak betah untuk mendengar keluhan orang lain. Apalagi Allah yang harus mendengar keluhan dari seluruh manusia. Bukan beberapa lho. Tapi semuanya. Apalagi Allah menciptakan manusia dengan sifat suka mengeluh. Seperti yang tertuang dalam QS Al Maarif ayat 19-21:


“Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa musibah dia mengeluh dan apabila ditimpa kesenangan berupa harta ia jadi kikir.”

Allah apa gak kesal denger keluhan kita setiap saat. Bukan hanya kita, tapi sudah semua manusia yang sudah Allah beri hidup di dunia ini. Bayangkan apa saja yang sudah Allah kasih untuk kita dalam hidup ini. A lot things even we hadn't counted them till now indeed.

Banyak hal. Bahkan terlalu banyak hal yang sudah Allah berikan dalam hidup kita tapi kita lupa mensyukurinya. Bahkan apa yang sudah Allah berikan untuk hidup kita tak jarang membuat iri segelintir orang. Begitulah hidup. Kadang kita memiliki sesuatu yang orang lain tidak miliki. Kadang sebaliknya. Semuanya pasti ada kelebihan dan kekurangan. Allah pasti sudah sebegitu adilnya dengan seluruh umat manusia dengan menetapkan porsi kebahagiaan dan kesedihan untuk hidup semua mansua yang sudah Dia ciptakan.

Jadi, buat apa kita mengeluh dengan ini itu dan sejuta masalah lainnya. Bayangkan kalau Allah sama seperti saya yang tidak sabaran dan gampang emosi. Mungkin sekali kita mengeluh akan Allah datangkan tsunami biar kita diam. Bayangkan kalau Allah sama seperti saya yang langsung tegas memperingatkan untuk jangan mengeluh. Mungkin Allah perintahkan bumi untuk meruntuhkan apapun yang ada di atasnya sekalipun itu ada kita. Bayangkan jika Allah kesal dan tidak betah mendengar keluhan kita. Mungkin Allah datangkan petir dari langit untuk membakar tubuh kita biar bisa diam tidak mengeluh lagi. But Allah is not like that. Allah selalu menunggu kita untuk kembali ketika kita suka berbuat maksiat. Allah selalu menunggu taubat kita sampai kapanpun sebelum kita mati dan sebelum matahari terbut dari barat. Allah selalu sayang sama kita dengan memberikan banyak nikmat meskipun sampai sekarang kita lebih sering mengeluh daripada bersyukur.

So, please learn to be patience and always thankful for Allah at all. 


If you are facing any problems. Hmmmmm

You Might Also Like

0 komentar