Pagi Hari

Juli 26, 2016

Hujan jatuh pelan lalu perlahan menderas ketika aku sedang mendalami sujud fajarku. Sebuah suasana yang berbeda dari biasanya. Rupanya Allah menyambut hamba-hambaNya dengan hujan di pagi hari. Tak khayal tetesan air hujan membuat udara pagi semakin bersih dan sejuk bahkan menjadi lebih dingin dari biasanya. Aku dengan malasnya bangkit untuk beres-beres dan mengantar si adek sekolah. Beruntung hujan tidak bertahan lama sehingga aku masih bisa mengantar sekolah menggunakan motor. 

Hujan yang mengguyur tidak lebih dari satu jam sudah mampu meratakan seluruh jalan raya dengan basah. Alhasil jalanan menjadi licin dan membuatku harus lebih berhati-hati dalam mengendarai motor.

Aku menikmati jalanan sembari mengendarai motor. Pelan tapi pasti, perjalanan dari rumah menuju sekolah jadi tidak terasa jauh. Tanpa terasa aku dan adikku sudah sampai di sekolah. Adek berpamitan kepadaku dengan mencium tangan. Aku balas sikapnya tersebut dengan lemparan senyum. Langkahnya pun dengan cepat berlalu dan sosoknya hilang dalam sekejap di gedung sekolah. 

Perjalanan pulang, kukendarai motor dengan penuh hati-hati. Aku hanya menjalankan motor dengan kecepatan pelan. Ego memang mengatakan bahwa aku ingin memacu kendaraan ini sekencang-kencangnya. Namun aku selalu teringat akan nasihat dan kekhawatiran Ibu agar berhati-hati di jalan raya. Sejauh ini, perhatian seorang ibu lah yang membuatku tidak gegabah untuk mengendarai motor. 

Sepulang dari rumah, aku merasa bersyukur. Bersyukur karena sudah sampai kembali di rumah dengan selamat. Serta rasa syukur atas hal lain yang tak terhitung jumlahnya. Aku nyaris tersenyum. Hari ini akan kumulai episode kehidupanku dengan lebih baik lagi. Semoga. 

You Might Also Like

0 komentar