Penemuan Naskah Lama

Juli 01, 2016

Malam ini, ketika saya membuka buku-buku lama semasa SMA, saya menemukan sebuah "naskah" berisi tulisan puisi. Saya baca dan selami makna puisi tersebut. Ternyata puisi ini terbaca indah sekali. Saya lupa-lupa ingat kapan dan mengapa saya bisa terinspirasi membuat puisi seperti ini. Menurut keterangan, kertas ini adalah kertas ulangan harian pelajaran Bahasa Indonesia yang dibuat pada hari Senin, 10 November 2014. Keterangan waktu tersebut adalah ketika saya duduk di kelas 2 SMA semester awal.


Berikut cuplikan puisi saya.

***

Tonggak sejarah mulai bercerita
Larik demi larik puisi pun berteriak
Seakan tengah mengerti
Arti seribu tetes darah perjuangan ini

Pahlawan oh pahlawanku
Kalian bukan sekedar simbol agung
Kalian bukan sekedar gelar besar
Kalian bukan sekedar nama-nama masa lalu
Namun kalian adalah saksi
Betapa dulu abdi juang yang elok
Menghadapi injakan kaki-kaki kokoh penjajah

Tanah ini pun menjadi saksi
Saksi bisu abdi juang
Tanpa perjuangan pahlawan-pahlawanku
Sungguh, barangkali namaku tidak pernah terlahir
Di atas tanah subur ini

***

Well, I'm beginner to make poem. My poem is so bad hehe. Saya adalah pecinta kata-kata indah semacam puisi dan kata-kata mutiara. Khusus masalah puisi, saya bukan tipe orang melankolis dan peka terhadap suatu hal. Saya suka puisi tapi kadang saya membencinya. Saya suka membaca puisi tapi malas jika ditanya apa maknanya. Seperti pertanyaan makna puisi dalam salah satu soal UN Bahasa Indonesia. Saya benar-benar kurang peka jika disuruh memaknai sebuah puisi. Biasanya butuh waktu lebih lama dalam memikirkan maksud puisi dan bisa jadi selalu salah mengartikan. Terbukti dari berbagai latihan UN SMA Bahasa Indonesia, jawaban saya selalu salah pada soal-soal yang berkaitan dengan puisi. 

Saya pun begitu amatir dalam membuat puisi. Entahlah. Katanya kita bisa merangkai kata-kata indah semacam puisi jika hati saya begitu mendalami suatu hal. Karena saya tidak peka dan cenderung cuek, saya jarang sekali memikirkan suatu hal dalam-dalam. Mungkin galau dan ngena di hati tapi dengan cepat bisa saya lupakan begitu saja. Maybe I'm bad in poem, But I'm good in other than make poems. Exspecially I can make some articles or write story about anything like my life, my friend, my experince of one day, and everything. 

Kalau berdasarkan penilaian dari diri sendiri, puisi ini terlalu mudah ditebak maknanya. Saya memang tidak secanggih Chairul Anwar yang mampu membuat kata-kata indah puisi sehingga menjadi semacam kode yang sulit ditelurusi maknanya. Butuh jiwa yang peka memaknai puisi dengan bahasa setinggi Chairul Anwar. Hehe.

Berikut dua dokumentasi tentang "nashah" puisi yang saya temukan pada malam ini.

I admit if I good in Bahasa Indonesia. But I'm not want take study Bahasa in college soon hahaha.

My poem as my history from SMA. Look! My teacher asked me about what is title. Well I forgot to give a title there.

You Might Also Like

0 komentar