Sehari Semalam Bersama si Sayang

Juli 09, 2016

Aku memanggilnya Sayang. Dia merupakan kucing tetangga yang dolan ke rumahku.
Awalnya saya kaget dengan kehadiran seekor kucing. Warna kulitnya putih dengan bercak hitam di beberapa bagian tubuh terutama yang paling mudah diingat corak hitam tersebut ada di kepalanya. Dia memeong pelan. Insting saya, dia ingin diberi makanan. Karena saya sore itu habis pulang dan malamnya tidak ada makanan sama sekali di rumah. Saya bingung apa yang akan saya berikan kepada si Sayang. Saya hanya mengelusnya pelan supaya dia bisa sabar karena di rumah ini benar-benar belum ada makanan satu pun.

Sayang sedang tidur di atas keset. Beberapa tikus bergerilya dengan lari sekilas di sudut-sudut rumah. Karena pengalaman tahunan saya memelihara kucing, saya jadi paham bahwa Sayang ini merupakan kucing rumahan. Insting berburunya kurang.  Terutama kurang peka dengan kehadiran tikus yang menampakkan diri terang-terangan walau hanya sekilas.
Keberadaan tikus tidak serta merta membuat Sayang langsung berburu mengejar si tikus.

Malam hari, Abah dan Ibuk sedang keluar karena ada urusan penting. Di rumah hanya ada saya dan adek-adek. Termasuk si Sayang yang betah di rumah saya. Karena lapar, saya membuat mie goreng dengan bumbu-bumbu yang sudah diajarkan Ibuk. Semacam mengurangi porsi makanan instan seperti mie instan karena kurang sehat untuk dikonsumsi. Meskipun jarang, saya benar-benar tidak mau memakan mie instan kecuali jika memang sangat terpaksa dan mencoba produk mie instan terbaru sesuai iklan tv. Hehe. Tak jarang masakan saya masih kurang kadar rasanya seperti malam ini. Mie goreng masakan saya terlalu asin. Saya tambah lebih banyak kecap supaya rasa asinnya bisa sedikit netral. Mau tidak mau, mie goreng keasinan tetap saya makan bersama adik-adik. Beras yang ditanak sejam lalu dengan magiccom sudah matang. Telur goreng juga sudah selesai saya buat. Akhirnya kami makan mie goreng, telur dan nasi bersama-sama. Ilham kalau ditanya bilangnya enak-enak terus. Lia mau saja makan mie goreng karena saya suapin. Saya sendiri lebih menghargai masakan hasil sendiri jadi sangat berambisi untuk menghabiskan selain karena memang kelaparan. Si Sayang tidak suka mie goreng. Dia hanya tidur di atas keset seperti tadi.

Esoknya, saya terbangun. Abah menggoreng kentang dan nuget karena kelaparan. Kebetulan saya juga kelaparan. Ketika kentang goreng dan nuget sudah jadi, saya pun bergegas untuk makan. Rupanya si Sayang juga ingin gabung. Akhirnya saya beri nuget. Dicoba dengan sepotong kecil nuget. Kalau dia suka, saya akan berikan semuanya. Ternyata dia memang suka. Tiga potong nuget saya berikan untuk Sayang. Kasihan dia semalaman belum makan.

Ketika matahari sudah terbit, saya bergegas menggoreng nuget untuk makan saya dan adik-adik. Kami pun makan bersama meskipun tanpa si Sayang. Dia tidak terlihat sejak tadi. Saya pikir dia pulang ke rumahnya. Jadi, saya tidak memberinya nuget untuk dimakan.

Sore harinya, saya melihat burung dara berterbangan kesana-kemari. Tanda mereka meminta makanan. Akhirnya saya beri makan secangkir beras dan ditaburkan. Kebetulan saya bersama si Sayang. Sayang mengekor saya dari belakang sambil mengeong pelan. Saya kasihan melihatnya. Dia pasti benar-benar lapar. Ketika saya sibuk menaburi beras untuk burung dara, Sayang memerhatikan dengan seksama aktivitas burung-burung tersebut. Sekali lagi, karena Sayang adalah kucing rumahan maka insting berburunya kurang. Dia kurang terlatih untuk berburu hewan lain termasuk burung-burung dara yang sedang terlena dengan sibuk mematuk beras. Si Sayang seperti mengendap-endap saja tapi tidak langsung menyergap. Saya hanya menahan geli melihatnya. Mungkin lapar tidak serta merta memberikan dorongan bagi seekor kucing untuk berburu hewan lain. Hewan rupanya juga butuh latihan seperti berburu dan cukup pengalaman untuk menjadi mahir berburu.
Sore itu juga. Saya dipanggil dari teras atas. Rupanya Bu Yuli, tetangga sebelah menanyakan keberadaan kucing di rumah saya. Ternyata si Sayang adalah kucingnya Bu Yuli. Saya pun mengembalikan Sayang kepada Bu Yuli dan jujur mengatakan kalau Sayang belum makan. Maklum di rumah tidak ada makanan.

Sehari semalam bersama si Sayang benar-benar menyenangkan. Dari si Sayang saya bisa merasakan kembalinya mengelus bulu kucing yang lembut. Saya pun sekilas bernostalgia bagaimana dulu rumah ini ada begitu banyak kucing dan suka duka yang saya rasakan bersama kucing.
Tidak ada gambar si Sayang. Lupa belum sempat mengambil gambar. Semoga saja si Sayang mau mampir ke sini lagi supaya bisa saya ajak foto. Hehe.

You Might Also Like

2 komentar