Semburat Pagi

Kudengar dengan  seksama, genderang adzan subuh saling bersahutan riang. Menandakan waktu sembayang yang akan menjadi awal dari sebuah hari ...

Kudengar dengan  seksama, genderang adzan subuh saling bersahutan riang. Menandakan waktu sembayang yang akan menjadi awal dari sebuah hari telah tiba. Aku terkesima dengan adzan yang terdengar dari segala penjuru langit. Terdengar jelas di telinga bahwa mereka saling bertarung demi membangunkan setiap orang yang terlelap. Ketika hari merangkak naik, suara adzan tidak akan terdengar seperti saat ini. Suaranya seakan tertelan jauh oleh hiruk pikuk manusia yang kesibukannya tiada pernah usai. Rupanya Allah sedang berseru kepada hamba-hambaNya agar segera menegakkan sembahyang demi mengawali hari dengan baik. 



Jutaan manusia yang masih terlelap kala Allah memanggil, bukanlah hal yang luar biasa. Oleh karenanya, kita harus bersyukur ketika kita mampu bangun di pagi hari kala adzan masih bersahutan. Tidak semua orang kuat untuk melakukan hal yang terdengar sepele, yakni bangun pagi. Terlebih untuk melakukan sembahyang dengan mengguyurkan air dingin di beberapa titik tubuh sebelumnya. 

Rasa syukur kepada Allah tidak serta merta hanya pengucapan. Ia harus dibuktikan juga melalui perbuatan. Salah satu pembuktian yang dapat segera kita lakukan adalah langsung beribadah tanpa menunda-nunda. Apalah arti kebahagiaan dan kesempatan membuka mata setiap pagi bilamana tidak diiringi dengan jiwa yang taat kepada Rabbnya?

Tidak semua orang berkesempatan membuka mata demi menyambut hari. 

Tidak semua orang dapat bertemu pagi hari lagi. 

Bangunlah dan beri pagimu dengan kebaikan-kebaikan sebagai awal termulainya suatu hari. 

Pagi, adalah saat yang tepat untuk mengukir kebersamaan dengan Sang Maha Menguasai Subuh. 

You Might Also Like

0 komentar