Terlintas Memori

"Tapi aku bener-bener bingung mau kuliah jurusan apa.", kataku padanya.  "Bukankah seharusnya kamu memikirkan masa sekarang t...

"Tapi aku bener-bener bingung mau kuliah jurusan apa.", kataku padanya. 

"Bukankah seharusnya kamu memikirkan masa sekarang terlebih dahulu?"

Sekeping memori masa lampau mengambang di muara hati. Membuatku teringat akan hal itu ketika pikiran sedang berkelana menjelajahi hal-hal yang tak pasti. Ini rumit untuk dijelaskan. Semacam sedih dan bingung mengapa aku seperti ini bahkan mengapa aku masih menjadi sesosok anak yang tidak berguna? 



Terkadang diri ini merasa iri dengan orang lain. Benar-benar aneh. Padahal di sisi lain, orang lain sebenarnya menginginkan hidup seperti diriku yang enak alias segalanya serba ada. Tapi entahlah. Aku lebih ingin hidup di bawah tekanan. Seperti tekanan kemiskinan barangkali? Sehingga aku bisa terus bergerak mencari celah-celah rezeki sekecil apapun. Bukannya malah malas-malasan bahkan menganggur seperti ini. Karena yang kutahu, tekanan membuat seseorang lebih terasah dan senantiasa ingin mengembangkan diri. 

Aku sempat berpikir sembari membayangkan, bagaimana jika menjadi orang miskin? Hidupnya terlihat lebih bermakna karena ia terus berkegiatan demi menyambung hidup. Jika dia enggan bergerak, ia tidak akan bisa bertahan di tengah kerasnya hidup. Apalagi jika si orang miskin ini adalah pemimpi bahkan seorang dreamcatcher yang punya cita-cita tinggi. Alhasil, dia akan berupaya keras agar apa yang ia impikan terwujud. Bukan justru terus bergelimang dan berteman dengan kemiskinan. Keadaan miskin sendiri menjadi motivasi bagi dia agar terus mengembangkan sayap demi meraih rezeki yang entah Allah sisipkan di sisi mana di dunia ini. Ah, rasanya sungguh dramatis dibanding diri ini yang tidak bisa melakukan apapun hingga sekarang. 

Kupikir orang miskin memiliki pengalaman lebih dibanding aku yang bahkan tidak berpengalaman untuk apapun. Pengalamanku amat sedikit. Lebih sedikit dari genangan air selepas hujan menerpa. Aku iri dengan mereka yang miskin namun kaya dalam pengalaman. Belum lagi dengan orang-orang yang sekarang terkenal besar, kaya dan menginspirasi banyak orang adalah mereka yang dulunya pernah mencicipi apa itu kemiskinan. Bagaimana nasibku kelak mengingat aku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Aku selalu bahagia bahkan nyaris tidak pernah berjuang demi apapun. Apakah aku bisa mengekor kesuksesan mereka sekarang yang dulunya miskin? Apakah bisa yang dari dulu sudah merasakan apa itu kaya, ketika dewasa bisa mengalami hal serupa? 

Terkadang hal-hal seperti ini yang selalu membayang dalam pikiranku. 

Satu hal yang harus kuakui ketika aku berpendapat tentang hal ini, aku kurang bersyukur. Bukankan aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah itu Maha Adil akan kehidupan seluruh makhluknya di muka bumiNya ini? Yang kuyakini ketika aku iri dengan orang lain adalah, Allah pasti memberikan jatah hidup dengan porsi bahagia, sedih, kecewa, harta, pengalaman dan segala hal dengan tepat bagi setiap hambaNya. Tidak mungkin Allah tidak adil dalam hal semacam ini. Roda kehidupan pun senantiasa berputar dan Allah menjanjikan akan selalu menguji hamba-hambaNya yang mengaku beriman. 

Sesungguhnya, hidup ini ujian. Segala hal di dalamnya adalah ujian. Allah pasti sudah memberikan porsi yang tepat untuk ujian yang akan kita kerjakan. Barangkali kemiskinan bukan jatah ujianku. Mungkin aku diuji di bidang lain, yakni kekayaan. Entahlah.

Aku hanya seorang anak dari orang tua yang selalu ingin kubahagiakan. Semoga aku bisa lebih bersyukur atas segala hal. Terutama dengan lebih fokus pada hidup sendiri daripada melihat bahkan sampai membanding-bandingkan hidup sendiri dengan orang lain. Semoga. 

You Might Also Like

0 komentar