Betapa Dingin

Hari ini diawali dengan pagi yang begitu dingin mencekat. Aku menggigil pelan sehabis tidur. Air yang kusentuh pagi ini sungguh dingin bagai...



Hari ini diawali dengan pagi yang begitu dingin mencekat. Aku menggigil pelan sehabis tidur. Air yang kusentuh pagi ini sungguh dingin bagaikan es. Setelah membasuh beberapa titik badan dengan air, aku melakukan aktivitas di pagi hari seperti biasanya. 

Sungguh! Pagi ini begitu dingin. Seperti hati yang dingin selepas pengkhianatan cinta terjadi. Dingin ini terasa begitu perih. Ibarat kaki yang terinjak paku dan harus segera mendapat pertolongan. Begitulah aku yang membutuhkan pertolongan segera demi mengatasi dingin. 



Faktanya, aku mengatasi rasa dinginku sendirian. Karena kutahu, semua orang rumah bahkan orang-orang di sekitar tempat tinggalku sedang sibuk menanggulangi badan mereka masing-masing yang nyaris ambruk karena dingin. Aku bergerak kesana-kemari demi memanaskan badan. Meski begitu, rasa dingin ini tidak kunjung lepas memeluk erat tubuhku. 

Kini kusadari, bahwa aku telah banyak mengeluh. Betapa aku mengeluhkan dingin yang menyiksa. Sedang dulu, ketika kemarau panas dan matahari bersinak begitu terik, aku mengeluhkannya dan berharap hujan dan dingin menyapu habis segala tentang panas. Begitulah manusia. Yang Allah ciptakan dengan karakter "selalu mengeluh" dan membuatnya menjadi tidak pandai bersyukur. Diberi ini berharap itu. Diberi itu berharap ini. 

Ya Allah, maafkan Itsna yang tidak pernah bersyukur kala panas. Kini Itsna merindukan matahari bersinar terik! 

You Might Also Like

1 komentar