Perjuangan dan Kemudahan

Rabu, Januari 16, 2019

Picture from Masjid Merald


Aku pernah iri dengan seseorang. Lala namanya. Alasannya sepele. Dia memiliki kecerdasan lebih dibanding aku. Terbukti ia mampu menghafal satu halaman hafalan baru dalam Al Quran dalam waktu singkat. Dia pernah bilang bahwa cukup 30 menit untuk mengaji atau menyiapkan hafalan untuk disetorkan. Kalau sudah lebih dari 30 menit, ia akan capek. Otaknya akan pusing. Begitu. 

Lala memang tipe orang yang dapat menghafalkan dengan cepat. Tidak sepertiku. Beruntung, Lala bukan orang yang rajin setor hafalan. Dia lebih banyak malesnya dibanding sregep. Berbeda dengan diriku yang lama membuat hafalan baru tapi aku tergolong rajin (katanya). Jadi, kemampuan kita seperti imbang satu sama lain. Pencapaian hafalan kita jalannya seperti sama walaupun cara kami menghafalkan Al Quran berbeda. Rahasia dari kecepatan hafalan dia cukup simpel. Lala memang sudah pintar berbahasa arab dan menguasai nahwu sorof. Banyaknya kosakata dan penguasaan gramatika bahasa arab membuat Lala tidak sulit dalam membuat hafalan baru dalam waktu singkat. 

Aku pernah beberapa kali ingin mencoba seperti dia. Aku mencoba untuk membuat hafalan dengan cepat. Hasilnya aku kecapekan. Kepalaku pusing. Alhasil hafalanku tidak lancar. Aku berakhir dengan dimarahi ustadah karena setoran tidak lancar dan terlalu memaksakan diri. Ternyata aku tidak bisa sepintar Lala yang mampu menghafal dengan cepat. Setelah itu aku kembali ke cara lamaku dalam menghafal.

Setelah merenung, aku mulai mengerti. Kemudahan Lala sekarang adalah hasil jerih payahnya dahulu ketika menempuh Madrasah Aliyah sembari mondok di salah satu sekolah berstandar internasional. Tidak main-main. Saat itu Lala dituntut untuk menguasai dan mempraktikkan bahasa arab dan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari baik ketika di sekolah maupun di pondok. Guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut adalah orang-orang lulusan luar negeri yang sudah teruji kepintarannya terutama dalam penguasaan bahasa asing. 

"Aku mbiyen yo dari enol" (Aku dulu juga dari nol), ungkap Lala pada suatu malam. Waktu itu kita sedang ngobrol ringan. 

"Pas pertama mlebu kelas siji, aku melu tes, Dan ternyata aku dimasukkan di kelas unggulan".

Bisa masuk di kelas unggulan di sekolah berstandar internasional bukanlah suatu kebanggaan bagi Lala saat itu. Ia mengaku menjadi anak paling bodoh di kelas. Ia tidak bisa apapun sama sekali di saat teman-teman sekelasnya adalah lulusan pondok sebelumnya. Otomatis, teman-temannya di kelas unggulan itu sudah mampu mengikuti pelajaran terutama pelajaran bahasa arab dan nahwu sorof dengan baik. Pernah suatu ketika guru kelas unggulan memberi tugas untuk mempelajari apa itu isim beserta ciri-cirinya, Lala pernah bertanya pada salah seorang temannya tugas tersebut karena ia sama sekali tidak tahu. Temannya justru menjawab pertanyaan Lala dengan ketus, "Yo isim ki sing kuwi lo mosok gak ngerti. Lha wong ndek kitab enek!" (Isim itu yang kayak gitu masak gak ngerti. Ada di kitab!). Selanjutnya Lala lebih memilih diam. Ketika liburan, Lala sempat bertanya dengan ibunya mengenai apa itu isim beserta ciri-cirinya. Beruntung ibunya mengerti dan bisa mengajari Lala saat itu.

"Jadi ketika kelas 1 SMA, aku cuma hafalan doang. Sama sekali gak paham isim itu apa. I'rab itu ngapain. Semua ini maksudnya apa. Aku cuma mengandalkan hafalan karena dulu ketika ujian juga kita harus menghafalkan isi kitab. Aku pernah mendapat nilai paling jelek di kelas. Ketika temen-temen dapet nilai 100, aku dapet nilai 50 sendiri. Nilai teman-temanku selalu bagus sedangkan nilaiku standar bahkan mendekati 60 sampai 50", ujarnya mengenang masa lalu. "Sampek sak garis  nek njero kitab e ae lo aku apal. Saking sing tak andelne apalan tok" (Sampai garis-garis di dalam kitanya aja aku hafal. Saking yang aku andalkan cuma hafalan), imbuhnya lagi. 

Berhubung Lala adalah tipe orang yang gengsi dan tidak mau kalah, ia mulai berpikir tentang nasibnya ketika kelas 2 SMA. Ia tidak bisa seperti ini terus. Ia harus bisa mengejar ketertinggalannya dengan teman-teman yang lain. Lala belajar keras. Semua memang benar-benar ia jalani dari ketika ia tidak mengetahui apa-apa. Hasilnya? Ia terbukti sukses. Namanya tidak pernah luput dipanggil oleh Pak Kyai karena mendapatkan ranking ketika selesai ujian. Akhirnya, Lala mampu mengejar ketertinggalannya selama ini bahkan ia mampu melampau teman-temannya. Kini, ia tidak sekadar hafal dengan apa yang ia pelajari tapi sekaligus memahami apa saja yang ia hafalkan.

Rupanya, Lala telah lebih dulu berjuang. Lala sudah lebih dulu melewati masa-masa sulit dibanding aku. Sekarang ia sedang menikmati hasil dari jerih payahnya dahulu. 


You Might Also Like

0 komentar