Batasan Jujur

Selasa, Juni 18, 2019

Picture from Tumblr

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutorehkan di sini sebagai renungan. Saking banyaknya memikirkan suatu hal, terkadang aku sampai bingung apa yang akan ditulis.

Jadi, aku akhir-akhir ini sedang memikirkan tentang kejujuran. Lebih tepatnya, seberapa batasan jujur yang bisa kita lakukan untuk orang lain.

Kejujuran memang suatu tindakan yang mulia. Dalam konteks ini, kejujuran biasa kita kenali dari pembicaraan. Orang yang berbicara jujur, biasanya akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain di sekitarnya. Tapi, setelah aku bermasalah atau bermusuhan dengan salah seorang teman, aku merasa perlu memikirkan ulang tentang kejujuran.

Ketika kita membenci seseorang, biasanya kita tidak akan menunjukkan sikap benci di depannya. Tapi, kita akan membicarakan keburukannya bersama orang-orang lain ketika dia tidak ada. Ini yang menjadi bahan perenunganku akhir-akhir ini. Jujur tapi nyelekit hati atau tidak jujur tapi ngerasani ndek mburi? Jujur tapi menyakiti hati atau membicarakan orang itu di belakang? Pilih mana?

Harus aku akui bahwa aku hidup dengan budaya Jawa yang kental dengan rasa sungkannya. Kita biasa ditawari sesuatu dan seketika itu juga menolak dengan sangat halus -padahal aslinya (dalam hati) juga mau-. Tapi rasa sungkan dan malu lebih diutamakan daripada kejujuran bagi orang Jawa dengan tambahan realita bahwa kita juga suka gosipin orang. Membicarakan keburukan orang lain adalah dosa. Tapi menyakiti hati orang lain juga bisa dikatakan dosa jika orang yang disakiti tidak ikhlas. Bagaimana dong?

Ketika aku bermasalah dengan salah seorang teman, sontak aku membicarakannya dengan teman-temanku. Aku benar-benar mengungkapkan bahwa aku membencinya. Tapi sebenarnya naluriku juga menyadari bahwa sikapku yang seperti ini adalah salah. Membicarakan orang di belakangnya tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya menambah pundi-pundi dosa.

Lalu, bagaimana batasan jujur yang sebenarnya. Kita memang dianjurkan untuk jujur karena kejujuran adalah salah satu modal dalam menjalani hidup. Tapi, bagaimana kita mempraktikkan kejujuran dengan benar?

Menurutku, pertama, kita harus tahu hal apa yang boleh diungkapkan dengan jujur dan hal apa yang benar-benar tidak boleh diungkapkan. Contohnya ketika kita update status. Kita tidak mungkin menulis status dengan sejujurnya. Misal kita menulis bahwa kita menyukai orang yang sudah memiliki pacar bahkan hingga menyebut nama orang yang kita suka dalam status kita. Kita memang harus jujur dengan perasaan kita sendiri namun kita tidak bisa jujur mengungkapkannya begitu saja. Kita harus memahami situasi dan posisi kita sendiri dalam mengungkapkan kejujuran. Jika dirasa kejujuran kita akan menimbulkan masalah, memang lebih baik jika kita tidak mengungkapkannya.

Kedua, jika kita benar-benar ingin mengungkapkan sesuatu secara jujur -entah itu perasaan suka, benci, dan campur aduk-, mungkin kita bisa mengungkapkannya secara personal dengan orang yang bersangkutan dengan catatan kita benar-benar sudah memikirkan matang-matang bahwa kejujuran kita tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Misalnya ketika mengkritik sikap seseorang. Kita bisa jujur mengungkapkan apa saja yang menjadi uneg-uneg kita namun dengan situasi dan kondisi yang tepat ketika mengungkapkan. Percayalah bahwa mengkritik orang di depan publik itu tidak akan diterima oleh orang tersebut karena yang kritik yang kita sampaikan justru akan dirasa seperti menjatuhkan orang tersebut.

Ketiga, kita harus mengerti situasi dan kondisi yaitu kapan dan bagaimana kita harus jujur. Jika salah memilih situasi dan kondisi, orang akan sakit hati dan bahkan tidak akan menerima kejujuran yang sudah kita sampaikan.

Budaya memang jadi hal yang tidak bisa dipungkiri ketika menyampaikan pendapat atau kejujuran. Orang Barat sudah biasa untuk mengungkapkan sesuatu secara langsung ketika tidak suka. Berbeda dengan kita khususnya aku sebagai orang Jawa yang hanya memendam perasaan ketika merasakan sesuatu yang tidak disukai haha. Isone mung mbatin. Haha.

Semua kembali pada perspektif masing-masing. Aku sebenarnya lebih ingin jujur daripada ngerasani ndek mburi. Dia bisa mendapatkan pahala dari aku hehe. Tapi mungkin untuk saat ini kejujuranku diungkapkan lewat sikapku saja walaupun entah dia akan mengerti atau tidak dengan sikapku yang seperti ini padanya. Hehe. Selain itu, aku juga lebih memilih seseorang untuk jujur di hadapanku karena aku tidak pernah peka dalam segala hal. Aku tidak pernah tahu perubahan sikap seseorang ketika ia membenciku atau tatapannya yang berbeda kepadaku. Aku tidak peka. Jadi, selama kamu tidak jujur, selama itu pula aku tidak akan mengerti apa yang terjadi dan apa yang kamu rasakan. Sering sekali aku tiba-tiba dijauhi dan aku tidak pernah diberi tahu dimana letak kesalahanku. Kan sebel~

Kalau aku salah, aku minta maaf ya. Aku bahkan sampai tidak tahu salahku dimana. Makanya ngomong aja dengan jujur aku salah apa. Aku santai kok orangnya. Gak gampang terbawa perasaan dan diambil hati begitu saja. ~

Satu hal yang terpenting, semoga aku bisa jujur dengan diriku sendiri.

You Might Also Like

0 komentar