Masih Kurang Berani

Kamis, Juni 20, 2019

Picture from Pinterest

Malam ini adalah malam Jumat. Selain merupakan waktu liburannya pondok, malam Jumat bagi santri diisi dengan pembacaan Yasin dan tahlil setelah solat Maghrib hingga menjelang Isya'.

Malam ini dijalani dengan seperti biasa. Mula-mula Bapak Yai memimpin atau mengimami solat Maghrib berjamaah. Setelah itu, pembacaan beberapa surat pada juz 29 dilakukan secara berjamaah dan dilanjutkan dengan pembacaan Yasin. Seperti biasa, Bapak akan meletakkan mic ke belakang dengan tujuan agar salah satu santri memimpin pembacaan Yasin dan tahlil. Seperti biasa pula, mbak-mbak santri di shof paling depan saling melempar mic satu sama lain. Tiba-tiba, salah satu mbak santri di shof paling depan menegurku yang sedang berposisi di shof kedua dari depan.

"Itsna baca ya!"

"Emoh!"

Aku langsung menggeleng keras tanda penolakan. Beruntunglah dia tidak memaksaku. Terkadang ada saja orang yang memaksa semaunya sendiri padahal orang yang dimaksud enggan untuk melakukan apa yang diperintah.

Jujur, aku memang pemalu untuk masalah unjuk diri dimana pun semisal menjadi pemimpin pembacaan Yasin dan tahlil. Atau ketika mengikuti lomba-lomba yang mengharuskan untuk unjuk diri. Intinya, aku malu untuk tampil di hadapan publik. Males aja sih menjadi objek perhatian orang lain. Padahal aku paham betul bahwa tidak ada yang peduli. Pokoknya gitu wes. Aku memang paling males untuk tampil di depan umum. Apakah karena aku introvert? Entahlah.

Akhir, mbak santri tadi lah yang memutuskan untuk memegang mic dan menjadi pemimpin baca Yasin dan tahlil setelah drama saling lempar mic terjadi. Namanya Mbak Farida, kakak tingkatku di fakultas dan prodi yang berbeda meskipun sebenarnya kami seumuran.

Mbak Farida bukan orang yang bagus bacaannya. Beberapa makhrojul hurufnya masih perlu banyak latihan. Pendengaranku yang peka bisa mengetahui dengan jelas mana bacaannya yang salah selama memimpin pembacaan Yasin dan tahlil. Meskipun begitu, Mbak Farida lebih baik daripada aku untuk soal keberanian unjuk diri di depan umum.

Bayangkan aja! Mbak Farida mau unjuk diri dan berani menerjang ketakutan meskipun bacaannya kurang benar. Dengan kata lain, Mbak Farida tidak takut dengan kesalahan. Memang sih Mbak Farida hampir tidak pernah memimpin tahlil seperti tadi. Aku benar-benar hampir tidak pernah melihat Mbak Farida memimpin. Hanya saja, sekali kulihat ia menggenggam kendali mic, di situlah bukti nyata bahwa aku masih kalah jauh dengan Mbak Farida soal keberanian. Nyaliku ciut ketika tampil di muka umum. Pasalnya, aku memang tidak fasih membaca tulisan arab alias tidak bisa membaca tulisan arab dengan cepat sebagaimana santri-santri lain. Bacaanku untuk tulisan berbahasa arab masih terbata-bata seperti orang yang baru saja terbebas dari buta huruf. Lebay banget ya! Hehe. Tapi memang beginilah kenyataannya. Aku tidak pede dengan kualitas bacaanku pada teks arab yang benar-benar di bawah standar kualifikasi lancar.

Mestinya aku seperti Mbak Farida yang pemberani meskipun membaca banyak teks tahlil dengan terbata-bata. Setidaknya Mbak Farida sudah mencoba meskipun belum bisa. Berbeda jauh dengan aku yang sudah tidak bisa, tidak mau mencoba pula.

Kapan ya aku bisa berani unjuk diri di depan umum?

You Might Also Like

0 komentar