Menghapus Dendam dengan Kebersamaan

Kamis, Juni 13, 2019

Picture from Pinterest

Aku bersyukur dengan diriku yang cuek. Mengapa demikian? Pasalnya aku sangat mudah sekali untuk melupakan masalah. Hanya dengan tidur, aku sangat mampu untuk melupakan masalah dan bersikap masa bodoh pada hari-hari berikutnya. Wow.

Kemarin aku sempat mendapat masalah dengan salah seorang teman. Masalahnya sepele, hanya persoalan jatah libur semester genap. Rumahku yang jauh hanya mendapat jatah liburan sedikit kali ini. Untuk teman-teman yang rumahnya dekat -yaitu Jember dan sekitarnya-, mereka mendapat waktu libur yang panjang. Perasaan iri inilah yang sebenarnya menjadi asal mula suatu masalah. Apalagi, liburan kali ini bertepatan dengan Syawal yang semerbak dengan nuansa mudik bagi masyarakat Indonesia setiap tahun. Siapa sih yang tidak ingin melewatkan momen untuk berkumpul dengan keluarga terutama kerabat jauh yang hanya sempat pulang setahun sekali?

Detailnya, Bu Nyai memberikan keputusan bahwa libur pondok jatuh pada 30 Mei hingga 26 Juni 2019. Kabar liburan ini harusnya disambut dengan sukacita. Sayangnya, mahasiswa Universitas Jember harus masuk perkuliahan dan UAS pada tanggal 10 Juni hingga 28 Juni 2019 sesuai dengan kalender akademik yang diumumkan. Rasanya sedih karena menyadari waktu liburan ternyata terpotong sebagian besar dengan mengikuti UAS.

Akhirnya, teman-teman yang berdomisili jauh mengajukan banding ke Bu Nyai agar bisa mendapat hak dan kesetaraan masa liburan. Kami pun diberi kesempatan untuk mendiskusikannya dengan seluruh teman-teman untuk mencapai suara mufakat. Sayangnya, musyawarah yang diharapkan dapat memberi jalan tengah atau solusi malah berakhir dengan voting. Votingnya dengan dua pilihan: Opsi 1 liburan tanpa jeda sesuai keputusan awal Bu Nyai atau Opsi 3 yaitu liburan dijeda sehingga masuk perkuliahan ketika UAS tidak dianggap liburan. Kami sebagai komunitas rumah jauh kalah di voting. Mayoritas teman-teman kami memang berdomisili Jember dan sekitarnya. Tidak susah bagi mereka untuk pulang sewaktu-waktu karena rumah mereka dapat ditempuh selama sejam-dua jam. Berbeda dengan kami

Gara-gara masalah inilah, ketegangan sempat terjadi antara golongan tua dan golongan muda. Golongan tua yang merupakan mahasiswi semester 6 ke atas memilih opsi 1 karena tidak ada jadwal perkuliahan lagi setelah liburan alias tidak ada UAS sedangkan golongan muda yang merupakan mahasiswi semester 6 ke bawah memilih opsi 3 karena kami masih harus mengikuti UAS.

Kami pun diam-diam melakukan perang dingin. Di depan sok manis, di belakang ngerasani. Hehe. Namanya juga cewek. :D

Alhamdulillah, jalan tengah pun ditemukan. Bagaimana jalan tengahnya? Opsi 1 dan opsi 3 dijalankan secara bersamaan. Bagi yang mengikuti opsi 1 silahkan dan bagi yang mengikuti opsi 3 juga tidak masalah.

***

Secara spesifik, aku memiliki masalah dengan salah seorang teman. Ia seniorku di pondok sekaligus di kampus meskipun beda prodi beda fakultas. Alasannya pun sepele. Masih bertemakan sengketa liburan dengan drama kesalahpahaman melalui chat grup Whatsapp. Dia mengkritik tulisanku di grup Whatsapp dan merasa tersinggung. Dia marah-marah. Anehnya, aku juga ikut marah karena aku tidak merasa bersalah waktu itu. Hehe. Saking kesalnya, aku bertekad untuk menganggap orang itu tidak pernah ada di dunia ini. Masa bodoh dengan apapun yang ia lakukan. Anggap aku tidak pernah mengenalnya dan sekarang aku sadar kalau gak boleh berpikir kayak gini. Ini namanya menyimpan dendam hoho.

Pasca libur lebaran, tanggal 10 Juni 2019 aku sampai di pondok setelah lebih dari seminggu berada di kampung halaman. Dia datang sehari-dua hari setelah kedatanganku di pondok. Malam hari, tiba-tiba dia datang ke kamarku ketika aku sendirian. Ia menawariku untuk makan kupatan bersama. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan ajakannya. Ternyata, dia sudah melupakan apa yang terjadi. Sikapnya kepadaku tempo hari sebelum libur lebaran kini berubah pasca lebaran. Jujur, dalam hati lega sekali rasanya. Aku ke sini dengan niat menuntut ilmu, bukan untuk mencari musuh. Undangannya untuk makan kupatan bersama itu juga mengobati rasa rinduku pada kampung halaman. Kalau di Tulungagung sih sekarang sudah ramai-ramai mengadakan kupatan. Kan jadi kangen. Hehe.

Akhirnya, dendam dan permusuhan lenyap ketika dalam suasana kebersamaan yaitu makan bareng. Hehe~




You Might Also Like

0 komentar